Publikasi

  • 7 Sep 2020

  • 0 Comments

  • Open Recruitment

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. 

Berikut nama-nama Calon Pengurus Muda yang dinyatakan lolos Tahap Wawancara 2, Open Recruitment Sharia Economic Forum (SEF) 2020/2021.

Keputusan bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Barakallahulakum kepada:
1.    Abdul Imron (1EB13) 
2.    Ahmad Muzaki (1IB01) 
3.    Ahmad Zikry Fadillah (1EB07) 
4.    Allysa Fatma Indriani (1EB03) 
5.    Amalia Anjani (1EC01) 
6.    Andena Putri Maulida (1PA22) 
7.    Andiena Cassy Candrakirana (1DD02) 
8.    Andini Dwi Julianti (2EB03) 
9.    Annisa (1SC01) 
10.    Asih Karsinih (1EC01) 
11.    Aurelia Zahra Salsabila (1EB03) 
12.    Desti Putri Afifah (1EB15) 
13.    Dzikrina Nuril Imani (1EB09) 
14.    Fida Hanifah (1EC01) 
15.    Hafidz Habibullah (1EB10) 
16.    Hasna Basalma Alayda (1EA20) 
17.    Ilyas Ibnu Thoriq (1EC01) 
18.    Nabila Putri Karinda (1EB06) 
19.    Putri Oktavia Rusadi (1EC01) 
20.    Riefqi Azhar Alman Faluthi (1TB05) 
21.    Rizki Dinda Amelia (2SC01) 

Selamat bergabung menjadi keluarga besar Sharia Economic Forum (SEF). Semoga nama-nama yang terpilih dapat istiqomah dalam kebaikan dan memegang teguh karakter Ikhlas dan Profesional, Aamiin Allahumma Aamiin.

Kami ucapkan Jazakumullahu Khairan kepada seluruh Peserta yang sudah mengikuti Open Recruitment Sharia Economic Forum (SEF) 2020/2021. 

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  • 28 Aug 2020

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menilai masih diperlukan kerja keras untuk terus mengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah di Tanah Air. Sebab, meski Indonesia berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, indeks inklusi keuangan syariah secara nasional maupun literasi keuangan syariah nasional menunjukan angka yang rendah.

"Tingkat literasi keuangan syariah nasional menurut laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2019, baru mencapai 8,9 persen sedangkan Indeks Inklusi Keuangan Syariah Nasional adalah 9,1 persen," kata Ma'ruf dalam acara perayaan Tahun Baru Islam 1442 Hijriah diikuti nota kesepahaman layanan syariah LinkAja melalui virtual, Selasa (25/8).

Ma'ruf mengatakan, indeks inklusi yang masih rendah ini mendorong perlunya perluasan layanan keuangan syariah. Khususnya menggunakan basis tekonologi digital kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

"Utamanya kepada mereka yang sama sekali belum terhubung dengan sistem keuangan formal," ujar Ma'ruf.

Sebab, masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai terbiasa bertransaksi secara digital dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk dengan uang elektronik. Karena itu, ia menilai, perlu dilakukan penguatan usaha-usaha syariah melalui penguatan ekosistem ekonomi digital dalam upaya mempercepat pertumbuhan aset keuangan syariah di Indonesia.

Ia pun berharap, peluang ini dapat dimanfaatkan oleh layanan syariah, salah satunya LinkAja.

"Saya harapkan layanan Syariah LinkAja dapat meghadirkan inovasi dan terobosan layanan yang dapat mendukung ekosistem Ekonomi Syariah secara luas termasuk industri halal," katanya.

Ma'ruf mengatakan, layanan Syariah LinkAja harus dapat menjadi bagian dari solusi untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 melalui penggunaan uang elektronik. Ia meyakini integrasi marketplace yang lebih masif dapat menggerakkan kembali roda ekonomi masyarakat melalui transaksi online yang cepat dan aman.

"Semoga sinergi yang dibangun ini dapat terus dilanjutkan dan diperluas ke seluruh pemangku kepentingan agar digitalisasi dapat meningkatkan literasi keuangan syariah sekaligus meningkatkan inklusi ekonomi dan keuangan Syariah," kata Ma'ruf.

Sumber: republika.co.id

  • 15 Aug 2020

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut upaya hilirisasi bahan mentah yang sedang 'digalakkan' oleh pemerintah akan memberikan beberapa manfaat bagi ekonomi domestik. Salah satunya memperbaiki defisit transaksi berjalana (current account deficit/CAD).

Jokowi mencontohkan beberapa upaya hilirisasi bahan mentah yang dilakukan ialah biji nikel yang diolah menjadi ferro nikel, stainless steel slab, lembaran baja, dan bahan utama untuk baterai lithium.

Selain itu, batu bara diolah menjadi methanol dan gas. Beberapa kilang dibangun untuk mengolah minyak mentah menjadi minyak jadi sekaligus penggerak industri petrokimia untuk memasok produk hilir bernilai tambah.

PT Pertamina (Persero), lanjut dia, berhasil menciptakan katalis untuk membuat D100. Ia menjelaskan D100 ialah bahan bakar diesel yang 100 persen dibuat dari kelapa sawit. Saat ini, produksi D100 sedang diuji coba di dua kilang."Tahun 2019 kami juga sudah berhasil memproduksi dan menggunakan B20. Tahun ini kami mulai dengan B30, sehingga kami mampu menekan nilai impor minyak kami pada 2019," kata Jokowi dalam sidang tahunan MPR, Jumat (14/8).

"Ini akan menyerap minimal 1 juta ton sawit produksi petani untuk kapasitas produksi 20 ribu barel per hari," terang Jokowi.

Ia bilang manfaat dari hilirisasi ini bukan hanya akan memperbaiki defisit transaksi berjalan, tapi juga meningkatkan lapangan pekerjaan dan mengurangi dominasi energi fosil.

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan sebesar US$3,9 miliar (1,4 persen dari PDB) pada kuartal I 2020. Angka itu jauh lebih rendah dari defisit pada kuartal sebelumnya yang mencapai US$8,1 miliar (2,8 persen dari PDB)."Hal ini akan membuat posisi Indonesia menjadi strategis dalam pengembangan baterai lithium, mobil listrik dunia, dan produsen teknologi di masa depan," jelas Jokowi.

Sementara, Indonesia juga sedang membangun pabrik untuk memproduksi mobil dan baterai mobil listrik. Pembangunan itu khususnya dilakukan oleh Hyundai Motor Company di kawasan industri Deltamas, Bekasi.

Sember: cnnindonesia.com

  • 12 Aug 2020

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Pertumbuhan investor syariah terus menunjukkan hasil yang signifikan. Sejak Sharia Online Trading System (SOTS) diluncurkan tahun 2011, jumlah investor syariah meningkat hingga 515 persen.

Kepala Divisi Pengembangan Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia (BEI), Irwan Abdalloh menunjukkan jumlah investor syariah per Juni 2020 mencapai 75.570 dengan pangsa 6,1 persen. Jumlah tersebut naik dari 68.599 investor pada akhir 2019.

"Jumlah investor syariah telah meningkat 515 persen dalam empat tahun terakhir," katanya kepada Republika.co.id, Senin (10/8).

Jumlah saham syariah juga naik dan mulai menjadi pilihan. Per Juni 2020, ada 22 saham syariah baru yang merupakan 79 persen dari total perusahaan tercatat baru dalam setengah tahun 2020 ini. Sementara total saham syariah berjumlah 448 saham dari 692 saham atau mencapai pangsa 65 persen.

Dari sisi kapitalisasi pasar, nilai saham syariah selalu lebih tinggi daripada saham nonsyariah. Per Juni 2020, nilai kapitalisasi saham syariah mencapai Rp 2.906 triliun atau mencapai pangsa 51 persen dari total kapitalisasi market sebesar Rp 5.678 triliun.

Jumlah investor ritel di pasar modal secara umum juga mengalami peningkatan signifikan. Dari total 3,02 juta investor, sebanyak satu persen adalah investor institusi dan sisanya ritel atau individu.

Terjadi peningkatan signifikan penambahan investor di masa pandemi menjadi di atas 20 ribu investor per bulan. Padahal biasanya di bawah itu. Profil usia investor pun sebanyak 46,14 persen berusia di bawah 30 tahun dan 70,77 persen di bawah 40 tahun.

Sumber: Republika.co.id

  • 8 Aug 2020

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Ekonomi syariah perlu melakukan adaptasi dengan kebiasaan baru atau new normal di tengah pandemi Covid-19, agar kegiatan usaha yang dijalankan dalam rangka pemulihan ekonomi nasional tidak menimbulkan risiko di bidang kesehatan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengatakan setidaknya terdapat tiga langkah adaptasi hadapi kenormalan baru. Pertama, penggunaan teknologi yang semakin intensif termasuk untuk membuka peluang pasar dan distribusi barang.

“Kedua, memanfaatkan peluang pengembangan alternatif usaha dan ketiga, meningkatkan kesempatan untuk memperat kolaborasi dan sinergi antar pelaku usaha,” ujarnya.

BI berkerjasama lintas lembaga di bawah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) selalu berkomitmen untuk mendorong pemberdayaan ekonomi syariah sehingga dapat bersaing secara nasional maupun global.

Salah satu strategi yang dilakukan adalah melalui penguatan ekosistem Halal Value Chain (HVC) yang meliputi rangkaian kegiatan untuk menghasilkan nilai tambah pada setiap bisnis proses dengan menekankan pada aspek kepatuhan terhadap nilai dan prinsip dasar syariah.

Pengembangan ekosistem Halal Value Chain dilakukan di empat sektor utama, yaitu pertanian (integrated farming); industri makanan halal dan fesyen muslim yang diwujudkan dalam program pengembangan Industri Kreatif Syariah (IKRA); pariwisata halal; serta pengembangan renewable energy.

Upaya-upaya tersebut terus dilakukan dengan menggandeng berbagai pelaku usaha, diantaranya komunitas pesantren, UMKM syariah, korporasi dan berbagai pelaku industri lainnya.

Sebagai informasi, BI juga telah menyempurnakan ketentuan Pasar Uang Antarbank Berdasarkan Prinsip Syariah (PBI PUAS) melalui Peraturan BI (PBI) Nomor 22/9/PBI/2020 yang mencabut PBI Nomor 17/4/PBI/2015.

Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan ketentuan baru tersebut berlaku mulai 22 Juli 2020. Penyempuraan PBI PUAS antara lain berupa penambahan instrumen baru PUAS berupa Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank (SiPA).

“Selain itu, ketentuan ini juga menyederhanakan pengaturan PUAS yang semula diatur dalam satu PBI dan beberapa Surat Edaran (SE) BI diubah menjadi satu PBI dan satu Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG),” jelas Onny.

Penerbitan ketentuan tersebut bertujuan untuk mendukung pelaksanaan operasi moneter berdasarkan prinsip syariah dan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang antarbank berdasarkan prinsip syariah.

Sumber: Sharianews.com

  • 5 Aug 2020

  • 0 Comments

  • Seminar GSENT

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma telah menyelenggarakan rangkaian dari Gunadarma Sharia Economic Event (GSENT) 2020 pada tanggal 14-18 Juli 2020, agenda ini yang merupakan agenda tahunan yang selalu ditunggu-tunggu di Universitas Gunadarma. Rangkaian GSENT terdiri dari 3 Seminar Nasional, 2 Seminar Internasional, dan Student Conference dengan tema Enhancing National Economic Resilience Through Islamic Political Economy in the Era of Global Uncertainty. Tahun ini, pelaksanaan GSENT untuk pertama kalinya dilakukan secara online melalui siaran langsung Youtube, mengingat kondisi pandemi COVID-19 yang belum juga mereda.

            Pada hari pertama (14/07), rangkaian dibuka dengan Seminar Nasional 1 yang mengangkat tema Will it Happen in Indonesia? Challenges and Opportunities in Facing Global Uncertainty Era. Seminar dibuka oleh Rezaldi Dwinanta Tama selaku MC dan dilanjutkan dengan tilawah, selanjutnya terdapat sambutan yang diberikan oleh Bapak Prof. Dr. Didin Mukodim, Drs., M.M. selaku Rektor IV Universitas Gunadarma. Dengan dimoderatori oleh Bapak Hendro Wibowo, S.E.I., M.M. selaku Anggota MPP KA FoSSEI Nasional, sesi pemaparan materi dibuka dengan penyampaian dari Bapak Prof. Dr. Didik Junaedi Rachbini selaku Ekonom Senior INDEF sebagai keynote speaker yang memaparkan mengenai kondisi perekonomian Indonesia dan masalah kesenjangan didalamnya, sehingga diperlukan ekonomi yang bernilai moral dan agama untuk menyelesaikannya.

            Pemaparan dilanjutkan oleh Ibu Tika Arundina, S.E., M.Sc., Ph.D. selaku  peneliti dan mentor di PEBS Universitas Indonesia sebagai pembicara pertama dan Bapak Muhamad Irfan Sukarna selaku Deputi Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI sebagai pembicara kedua. Keduanya memaparkan dampak ketidakpastian global akibat COVID-19 ini menyebabkan perekonomian global mengalami resesi yang cukup signifikan. Selama 2 kuartal atau lebih Indonesia menghadapi kondisi pertumbuhan ekonomi yang negatif dan bahkan diprediksi dapat mencapai -2,8%. Islamic Economic and Finance Ecosystem yang ideal di Indonesia ada diberbagai lini. Terdapat lini commercial finance mulai dari BMT, perbankan, dan pasar modal syariah yang terus mengalami kenaikan pertumbuhan aset. Sumber daya keuangan syariah seperti ZISWAF juga merupakan lini ekonomi syariah dari sisi social finance dengan potensi yang besar. Pada masa pandemi ini, jika dana zakat dan wakaf dikelola dengan baik, maka akan membantu negara dari sisi health recovery maupun social safety sehingga pemerintah bisa lebih fokus dalam pembenahan ekonomi.

            Seminar Nasional 2 dilaksanakan setelah Seminar Nasional 1 selesai di hari yang sama. Dengan berfokus kepada ketenagakerjaan, tema yang diangkat adalah Emphasizing the Future Employment Needs in Shaping the Golden Indonesia. Kali ini seminar dibuka oleh Wafa Luthfiyah Azzahra selaku MC dan dilanjutkan dengan tilawah. Seminar Nasional 2 dipandu oleh Ibu Deviana Kurnawati selaku Client Success Senior di Kalibrr Indonesia. Keynote speaker pada Seminar Nasional 2 adalah Bapak Muhammad Hanif Dhakiri, S.Ag., M.Si. selaku Menteri Ketenagakerjaan periode tahun 2014-2019. Beliau menyampaikan bahwa dunia sudah mengalami banyak perubahan akibat teknologi informasi yang berkembang secara masif, tidak terkecuali sektor industri yang banyak menyerap tenaga kerja, mau tidak mau industri juga harus melakukan penyesuaian dengan teknologi  yang ada. Transformasi industri ini menjadi hal yang sangat penting agar industri tetap bisa bersaing dan kompetitif antara satu dan lainnya dan ini menjadi tantangan yang besar untuk dihadapi sebagai individu maupun sebagai korporasi atau industri.

            Pembahasan mengenai ketenagakerjaan dilanjutkan oleh Bapak Drs. Aris Wahyudi, M.Si selaku Direktur Jendral Binapenta sebagai pembicara pertama. Beliau menjelaskan bahwa salah satu fokus dari Kementerian Ketenagakerjan saat ini adalah bagaimana agar kualifikasi kerja dapat dimiliki oleh mahasiswa dalam mempersiapkan kehidupan pasca perkuliahan, sehingga dapat menjadi generasi emas yang mandiri dan bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru. Bapak Indra Dwi Prasetyo, S.Pd., M.Ed. selaku Managing Director IDN Next Leader sebagai pembicara kedua melanjutkan kalau saat ini hingga kedepannya, pekerjaan akan menjadi technology reliated. Permasalahannya bukanlah mengenai adanya lowongan atau tidak, tapi pertanyaan sesungguhnya adalah, apakah para mahasiswa  tersebut siap kerja atau tidak, mengingat dunia juga sudah memasuki borderless era, dimana bidang yang dipelajari tidak selalu menentukan pkerjaan yang didapat. Oleh karena itu, penting bagi para mahasiswa untuk mulai mempelajari skill diuar bbidang pembelejarannya untuk dapat bersaing di level yang lebih tinggi.

            Hari kedua (15/07) dimulai dengan diadakannya Seminar Internasional 1 dengan tema The Economic Distruption: Friends or Foe in Cross-border Era?. Seminar diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Gafar Ali Haji dan dilanjutkan dengan pembacaan tilawah. Selanjutnya Ibu Nuha Qanita, Lc., M. Sc. Selaku Analis Komite Nasional Ekonomi  dan Keuangan Syariah (KNEKS) sebagai moderator mempersilakan Bapak Dr. Halim Alamsyah, S.E., S.H., M.A. selaku Ketua Dewan Komisioner LPS sebagai keynote speaker memulai seminar dengan penjelasan awal mengenai distrupsi ekonomi yang memengaruhi dunia bisnis, dimana inovasi atau teknologi justru dapat menggoyahkan bisnis perusahaan dengan menciptakan hal baru, kebiasaan baru, dan era yang baru. Indonesia harus bisa memaksimalkan distrupsi ini sebagai cara untuk menyelesaikan berbagai masalah, mulai dari rendahnya produktivitas hingga kualitas SDM dengan memanfaatkan inovasi yang ada dan penggunaan teknologi.

            Pembicara pertama, Bapak Ronald Yusuf Wijaya selaku Presiden Asosiasi Fintek Indonesia (AFSI) percaya jika Indonesia memiliki potensi besar untuk dapat memimpin digital sharia economy terutama dalam berkembangnya fintek syariah. Namun, dengan pangsa pasar yang besar sebagai negara dengan populasi muslim terbesar, pertumbuhan ekonomi islam Indonesia ternyata masih tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Malaysia. Dengan inovasi, berbagai jasa keuangan dapat terkover melalui teknologi yang dapat memudahkan para pemain pasar untuk memenuhi kebutuhan bertransaksi sehingga hal ini juga akan mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih berkembang. Bapak Umar Munshi selaku Pendiri dari Ethis Global selaku pembicara kedua juga memaparkan, pandemi COVID-19 menjadi katalis dalam perubahan yang sangat cepat, secara global aktivitas dari berbagai sektor yang dilakukan secara daring mendorong proses digitalisasi yang harusnya berproses selama 5 tahun sekarang telah terjadi dalam 3-4 bulan. Karena itulah ekonomi mulai dari cara berbisnis hingga kebijakan pemerintah juga berubah.

            Masih pada hari yang sama, sesi siang dilanjutkan dengan dimulainya Seminar Nasional 3 dengan tema Critical Perspective of the Islamic Political Economy as the Indonesia’s Resurgence in Global Uncertainty Era. Seminar dibuka oleh Rani Puspita sari selaku MC dan dilanjutkan dengan tilawah. Seminar Nasional 3 dipandu oleh Ibu Siti Rahmah Hanifa, S.E. selaku Pendiri dari KSEI FIES dan sesi pemaparan materi dimulai oleh Bapak Faisal Basri, S.E., M.A. selaku Ekonom Senior dan dilanjutkan dengan Bapak Dr. Ascarya, M.B.A., M.Sc. selaku Research Advisior Bank Indonesia. Keduanya menjelaskan secara berkesinambungan bahwa pada saat ini, krisis ekonomi dipicu oleh sektor kesehatan akibat adanya COVID-19 yang telah menjadi pandemi dunia. Saat ini ekonomi dunia sedang mengalami resesi dan kontraksi sehingga mengalami supply shock dan demand shock. Pandemi ini menyebabkan krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Islamic social finance dapat membantu pemerintah dengan pembahasan pertama yakni save lives misalkan dengan membangun rumah sakit darurat dengan menggunakan wakaf. Kedua ialah save households dengan membantu masyarakat yang kehilangan pekerjaan dengan memberikan zakat. Maka kuncinya ialah, saving live is saving the economy. Penyembuhan harus dilakukan dengan pendekatan interdisiplin dan melibatkan segenap pemangku kepentingan, tidak hanya ekonom saja, ataupun ahli kesehatan saja, tetapi semua pihak bahu-membahu bersama-sama sebagai bagian dari elemen bangsa.

            Pada Hari ketiga (17/07), rangkaian acara dilanjutkan dengan Seminar Internasional 2, Pada seminar ini, materi difokuskan dengan pembahasan mengenai etika kerja islam dengan tema Looking for Moral Identity: Dealing with Islamic Work Ethics as the Right Way. Pembukaan disampaikan oleh Dian Ayu Safitri selaku MC dan dilanjutkan dengan tilawah. Seminar Internasional 2 dimoderatori oleh Bapak Muhamad R. Rizaldy, S.E., M.M., M.Sc. selaku Dosen dan Peneliti Universitas Gunadarma. Selanjutnya, materi pembuka disampaikan oleh Bapak Prof. Dr. M. Din Syamsuddin selaku Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Beliau menekankan bahwa semua hal yang menyebabkan era ketidakpastian goba ini adalah kurangnya responsibility atau tanggung jawab manusia. Dalam hal ini, Islam dapat memegang peranan penting, melalui prinsip-prinsip islam seperti adil, seimbang, toleransi, musyawarah,  inisiatif, dan lainnya. Maka dari itu, ekonomi islam termasuk didalamnya bisnis islam, harus berlandaskan etik islam.

            Pemaparan dilanjutkan oleh Bapak Ir. Budi Hsndrianto Ph.D. selaku Peneliti dari Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) sebagai pembicara pertma dan Bapak Dr. Mohd Syakir Mohd Rosdi selaku Dosen Senior Pusat Pengembangan Studi Manajemen Islam di Universiti Sains Malaysia sebagai pembbicara kedua. Inti dari sesi  pemaparan materi adalah bahwa Allah dan Rasul-Nya memerintahkan umat-Nya bekerja dengan sebaik-baiknya dengan sikap ihsan dalam bekerja, profesional, dan agar dapat bekerja sesuai keahlian. Rumusan etos kerja islam berkaitan dengan etika, moral, dan akhlak. Tentang bagaimana memilih diantarra pilihan yang baik dan buruk dengan landasan yang ada, etika berlandaskan akal pikiran, moral berlandaskan norma masyarakat, dan akhlak berlandaskan wahyu Allah dan sunnah Rasul-Nya. Jika umat muslim Indonesia melaksanakan etos kerja, etika kerja, akhlak kerja yang islami maka Indonesia dapat menjadi negara yang maju dengan kualitas manusia yang baik.

            Pada hari terakhir (18/07), rangkaian dari GSENT 2020 ditutup dengaan acara Student Conference atau Konferensi Mahasiswa sebagai bagian dari babak final Olimpiade Ekonomi  Islam GSENT 2020 yang telah berjalan dari tanggal 16-18 Juli. Student Conference ini membahas mengenai bagaimana ekonomi syariah dapat menjadi solusi dalam era ketidakpastian global dengan tema Reviving the Islamic Economics to Preserve the National Defense in Global Uncertainty Era. Acara dibuka oleh Anisah Ajeng Jayanti selaku promotor dan dilajutkan dengan tilawah, terdapat sambutan yang diberikan oleh Bapak Dr. Teddy Oswari, S.E., M.M., M.IKom. selaku Kepala Bidang Pengembangan Minat dan Bakat Mahasiswa Universitas Gunadarma. Sebelum sesi presentasi dari setiap tim dimulai, Bapak Dr. Sutan Emir Hidayat, S.P., M.B.A. selaku Direktur Bidang Pendidikaan & Riset Keuangan Syariah KNEKS menyampaikan pidato kunci sebagai keynote speaker dan memaparkan mengenai lembaga keuangan syariah baik komersial maupun sosial yang harus terus melakukan inovasi dan penguatan tata kelola lembaga sehingga dapat bertransformasi menjadi lembaga yang berdaya saing tinggi serta berperan lebih nyata pada perekonomian nasional dan pembangunan sosial di Indonesia.

            Selanjutnya, 4 tim finalis yang telah lolos babak semifinal Olimpiade Ekonomi Islam melakukan presentasi essay yang telah dibuat oleh setiap tim yang berisi berbagai solusi untuk mewujudkan ketahanan nasional dalam era ketidakpastian global, mulai dari pemanfaatan bank wakaf mikro hingga menggalakkan investasi syariah berupa reksadana dan sukuk. 4 tim tersebut berasal dari Institut Agama Islam Tazkia dan Universitas Diponegoro yang masing-masing berhasil meloloskan kedua timnya. Setelah setiap tim melakukan presentasi, maka dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh 3 orang juri yang ahli dibidangnya, Bapak Jaja Zarkasyi, S.TH.I., M.A. selaku Kepala Seksi Pemantauan dan Evaluasi Harta Benda Wakaf Kementerian Agama, Bapak Dr. Ali Sakti, M.Ec. selaku Peneliti Senior Bank Indonesia, dan Bapak Dr. Riskayanto, S.E., M.M selaku Kepala Prodi  Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Terakhir dilanjutkan dengan tanya jawab oleh para peserta yang mengikuti Student Conference.

Laporan: Wafa Luthfiyah Azzahra

  • 3 Aug 2020

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi memprediksi ekonomi sepanjang 2020 akan tumbuh negatif di kisaran -0,8 persen sampai -0,2 persen jika kasus positif virus corona (Covid-19) tak menurun hingga September 2020.

"Berdasarkan skenario kami kalau kurvanya tidak melandai sampai September kita akan mulai memasuki pertumbuhan negatif sepanjang 2020. Minus 0,8 persen sampai minus 0,2 persen. Ini benar-benar mengkhawatirkan," ujarnya dalam diskusi virtual yang diselenggarakan ILUNI UI, Sabtu (1/8).

Faisal mengatakan pertumbuhan ekonomi (PE) yang minus ini akan membawa Indonesia masuk ke fase resesi dan bisa berujung pada depresiasi ekonomi. Dampak jangka panjangnya ekonomi RI akan tumbuh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi jika aktor-aktor perekonomian seperti tenaga kerja, industri, dan rumah tangga kehilangan kemampuan ekonomi dan produktivitasnya atau mengalami economic hyteresis.

"Ini yang harus kita waspadai. Jangan sampai resesi berujung depresi ekonomi. Harus ditopang harus segera (di kuartal tiga 2020)," ujarnya.

Faisal mengatakan selain memaksimalkan program stimulus dan insentif yang telah dirancang, pemerintah juga harus mempertimbangkan variabel kesehatan dalam menentukan sektor ekonomi mana saja yang akan dibuka. Ia menyebut pelonggaran aktivitas sosial dan ekonomi yang serampangan akan membuat pengendalian Covid-19 oleh pemerintah menjadi sia-sia. Kurva kasus positif Covid-19 dipastikan akan kembali meningkat dan sektor-sektor yang telah dibuka terpaksa harus kembali ditutup.

"Ketika infection rate naik maka ini tentunya akan menghambat aktivitas ekonomi jangka menengah dan panjang," katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut perekonomian dunia masih tidak menentu dan revisi proyeksi bisa dilakukan kapan saja mengikuti perkembangan di tengah pandemi virus corona.

Meski sejumlah lembaga internasional mengelompokkan Indonesia ke dalam negara-negara yang perekonomian bisa pulih lebih cepat, ia meminta jajarannya tetap mewaspadai gelombang kedua kasus Covid-19.

"Tetap harus waspada, kemungkinan dan antisipasi kita terhadap risiko terjadinya gelombang kedua dan masih berlanjutnya ketidakpastian ekonomi global 2021," kata Jokowi.

Sumber: cnnindonesia.com

  • 26 Jul 2020

  • 0 Comments

  • Open Recruitment

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Bismillaahirrahmaanirraahiim

Berdasarkan hasil Seleksi Wawancara 1 Calon Pengurus Muda Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma periode 2020/2021, maka kami mengumumkan 45 nama yang lanjut ke tahap Seleksi Magang & Pelatihan:

 

1. ABDUL IMRON (1EB13)
2. ABDULLAH FADHLURRAHMAN MAHFUZH (1KA04)
3. ABIGHEL APNAN CAMILA (1EB03)
4. AHMAD MUZAKI (1IB01)
5. AHMAD ZIKRY FADILLAH (1EB07)
6. ALIFIYA RISQI HABIBAH (1EB10)
7. ALLYSA FATMA INDRIANI (1EB03)
8. AMALIA ANJANI (1EC01)
9. ANDENA PUTRI MAULIDA (1PA22)
10. ANDIENA CASSY CANDRAKIRANA (1DD02)
11. ANDINI DWI JULIANTI (2EB03)
12. ANNISA (1SC01)
13. ASIH KARSINIH (1EC01)
14. ATIKAH LESTARI ENDRAWATI (1ID02)
15. AURELIA ZAHRA SALSABILA (1EB03)
16. AZIZAH DINA SULARSIH (2EA19)
17. BUNGA CANTIKA (1EB07)
18. DESTI PUTRI AFIFAH (1EB15)
19. DEVI SYELI FITRIANI (1EB10)
20. DIEN SILMI MAULIDYAH (2KA18)
21. DINDA MEGA UTAMI (1EA09)
22. DIYAN ANIQA AINAIYA (1EB07)
23. DZIKRINA NURIL IMANI (1EB09)
24. FAHIRA ZAHIRA IDHAM (1EA06)
25. FATIMAH AZ ZAHRA (1PA16)
26. FIDA HANIFAH (1EC01)
27. HAFIDZ HABIBULLAH (1EB10)
28. HASNA BASALMA ALAYDA (1EA20)
29. ILYAS IBNU THORIQ (1EC01)
30. KIKI MULIAWATI (1DF02)
31. MOHAMMED KEVIN ALTALARIK (2ID04)
32. NABILA PUTRI KARINDA (1EB06)
33. NABILAH TASHA ZHAFIRAH (1EB07)
34. NASIEM GAHTAN DEGEL (1MA06)
35. NOURMALITA ANWAR (1MA07)
36. PUTRI MAULIDA (2EB03)
37. PUTRI OKTAVIA RUSADI (1EC01)
38. RAHMA AMELIA PUTRI (1EB07)
39. RIEFQI AZHAR ALMAN FALUTHI (1TB05)
40. RIKKARDO L.TOBING (1DC02)
41. RIZKI DINDA AMELIA (2SC01)
42. SYIFANI ANISA IRAWAN (1EB15)
43. TIA DAMAYANTI (1PA22)
44. TIKA MAHARANI PUTRI (1EB10)
45. YOVI TAMALA SARI (2EB05)

Kami ucapkan SELAMAT kepada Calon Pengurus Muda SEF Gunadarma periode 2020/2021 telah berhasil memasuki tahap Magang dan Pelatihan.

Untuk info lebih lanjut terkait tahap selanjutnya akan diberitahu oleh panitia.

Note:
Keputusan ini bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.

Let's contribute yourself as youth to create your bright future with us!

Jazaakumullahu Khayraan,

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Our Social Media:⁣⁣⁣⁣

- Whatsapp: 0857 1571 4157⁣
- Twitter/Line/IG: @KSEI_SEF⁣
- Fb, YouTube & LinkedIn: KSEI SEF Gunadarma⁣
- Website: shariaeconomicforum.org⁣

© KSEI SEF UNIVERSITAS GUNADARMA

  • 22 Jul 2020

  • 0 Comments

  • Open Recruitment

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Bismillahirrahmanirrohim...

Berdasarkan hasil Seleksi Berkas Calon Pengurus Muda Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma periode 2020/2021, maka kami mengumumkan 56 nama yang lanjut ke tahap Seleksi Wawancara 1:

1. ABDUL IMRON (1EB13)
2. ABDULLAH FADHLURRAHMAN MAHFUZH (1KA04)
3. ABIGHEL APNAN CAMILA (1EB03)
4. AFIFAH RIZKI ADILIA (2EA21)
5. AHMAD MUZAKI (1IB01)
6. AHMAD ZIKRY FADILLAH (1EB07)
7. ALIFIYA RISQI HABIBAH (1EB10)
8. ALLYSA FATMA INDRIANI (1EB03)
9. AMALIA ANJANI (1EC01)
10. ANDENA PUTRI MAULIDA (1PA22)
11. ANDIENA CASSY CANDRAKIRANA (1DD02)
12. ANDINI DWI JULIANTI (2EB03)
13. ANNISA (1SC01)
14. ARIZKA YULIA CITRA (2TB05)
15. ASIH KARSINIH (1EC01)
16. ATIKAH LESTARI ENDRAWATI (1ID02)
17. AURELIA ZAHRA SALSABILA (1EB03)
18. AZIZAH DINA SULARSIH (2EA19)
19. BUNGA CANTIKA (1EB07)
20. DESTI PUTRI AFIFAH (1EB15)
21. DEVI SYELI FITRIANI (1EB10)
22. DIEN SILMI MAULIDYAH (2KA18)
23. DINDA MEGA UTAMI (1EA09)
24. DIYAN ANIQA AINAIYA (1EB07)
25. DZIKRINA NURIL IMANI (1EB09)
26. FAHIRA ZAHIRA IDHAM (1EA06)
27. FATIMAH AZ ZAHRA (1PA16)
28. FIDA HANIFAH (1EC01)
29. HAFIDZ HABIBULLAH (1EB10)
30. HASNA BASALMA ALAYDA (1EA20)
31. ILYAS IBNU THORIQ (1EC01)
32. KAMELIA RIHADATUL AIIS (1DF02)
33. KIKI MULIAWATI (1DF02)
34. MOHAMMED KEVIN ALTALARIK (1ID04)
35. MUHAMMAD AINUL YAQIEN (1EA06)
36. MUJAKIR (1EC01)
37. NABILA PUTRI KARINDA (1EB06)
38. NABILAH TASHA ZHAFIRAH (1EB07)
39. NASIEM GAHTAN DEGEL (1MA06)
40. NOURMALITA ANWAR (1MA07)
41. PUSPA UTARI AYUDIA (1EB03)
42. PUTRI MAULIDA (2EB03)
43. PUTRI OKTAVIA RUSADI (1EC01)
44. RAHMA AMELIA PUTRI (1EB07)
45. RAISA PUTRI HIMZANAH (1KA04)
46. RIEFQI AZHAR ALMAN FALUTHI (1TB05)
47. RIKKARDO L.TOBING (1DC02)
48. RISQIANI KHOIRINISA (1EA25)
49. RIZKI DINDA AMELIA (2SC01)
50. SILVI DEWI TWIGYASARI (1EB18)
51. SYIFANI ANISA IRAWAN (1EB15)
52. TIA DAMAYANTI (1PA22)
53. TIKA MAHARANI PUTRI (1EB10)
54. YOSVANI (1DF02)
55. YOVI TAMALA SARI (2EB05)
56. ZAENAL ARIFIN (1EC01)

Kami ucapkan SELAMAT kepada Calon Pengurus Muda SEF Gunadarma periode 2020/2021 telah berhasil memasuki tahap Seleksi Wawancara 1.

Calon Pengurus Muda SEF 2020/2021 yang dinyatakan lolos DIWAJIBKAN untuk dapat hadir pada Seleksi Wawancara 1 yang akan diselenggarakan secara virtual pada:

Hari, Tanggal: Ahad, 26 Juli 2020
Pukul: 09.00 s.d. 15.00 WIB
Dresscode: Pakaian Praktikum
Media Virtual: Google Meet

Note:
Link dan jadwal akan diberikan oleh Panitia.

Keputusan ini bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.

Let's be part of our family and create the bright future with us!

Jazaakumullahu Khayraan,

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Our Social Media:⁣⁣⁣⁣
- Twitter/Line/IG: @KSEI_SEF⁣⁣⁣⁣
- Fb, YouTube & LinkedIn: KSEI SEF Gunadarma⁣⁣⁣⁣

  • 1 Jul 2020

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Studi yang dilakukan International Data Corporation (IDC) memperkirakan, pada 2025 akan ada sekitar 40 miliar perangkat Internet of Things (IoT) yang terkoneksi. Jumlah perangkat tersebut akan menghasilkan sekitar 80 zettabytes (ZB) data pada tahun yang sama akibat dari digitalisasi industri.

Mengenai hal itu, perusahaan riset teknologi informasi asal Amerika Serikat, Gartner memperkirakan 75 persen data yang dihasilkan perusahaan akan dibuat dan diproses di luar pusat data tradisional.

Dengan kata lain, jumlah pemanfaatan micro data center atau local edge data center akan meningkat empat kali lipat pada 2025.

Business Vice President Secure Power Division, Schneider Electric Indonesia, Yana Achmad Haikal mengatakan, tren ini akan berdampak terhadap peningkatan konsumsi energi di sektor data center yang diperkirakan dapat mencapai 3.000 terawatt per jam.

“Jumlah itu hampir sama dengan konsumsi energi dari 275 juta rumah tangga pada 2040. Strategi pengelolaan data center yang tidak efektif juga akan menyebabkan biaya operasional dan perawatan dapat melambung tinggi,” jelas Yana pada acara diskusi Virtual Media Briefing Schneider Electric, Jumat (26/6/2020).

Untuk memitigasi hal itu, lanjutnya, industri data center perlu fokus mendesain edge data center yang efisien, andal, dan ramah lingkungan.

Selain itu, perlu pula pemanfaatan teknologi data center pintar yang mengintegrasikan kecanggihan teknologi IoT, mobilitysensingcloud, analitik, dan teknologi keamanan siber.

“Teknologi-teknologi tersebut pun kini telah tersedia pada produk EcoStruxure for Data Centers dari Schneider Electric,” ujar Yana.

Era edge computing

Schneider Electric, perusahaan global dalam transformasi digital di pengelolaan energi dan otomasi, menegaskan bahwa solusi produk tersebut pada dasarnya adalah untuk membantu industri data center di Indonesia memasuki era edge computing.

Pasalnya, pemanfaatan teknologi data center pintar dan energi baru terbarukan dalam penerapan edge computing akan memperkuat kemampuan pelaku industri untuk akses data yang semakin cepat dan terintegrasi.

Tak hanya itu, pun akan menghasilkan koneksi internet yang stabil, keamanan data terpercaya, dan di sisi lain dapat meningkatkan efisiensi konsumsi energi serta biaya operasional.

Perlu diketahui, Solusi EcoStruxure for Data Center dari Schneider Electric mengintegrasikan manajemen listrik, gedung, dan teknologi informasi (TI) sehingga industri dapat memperoleh pemahaman menyeluruh terhadap performa data center-nya.

Yana mengatakan, solusi ini dapat membantu pengambilan keputusan yang tepat berbasis data real-time.

“Solusi tersebut juga terbukti dapat meningkatkan efisiensi konsumsi energi hingga 38 persen, efisiensi biaya energi hingga 30 persen, peningkatan produktivitas hingga 60 persen, dan data center uptime hingga 100 persen,” terang Yana.

Menanggapi tren global terhadap era egde computing, Ketua Indonesia Data Center Provider Organization (IDPro) Hendra Suryakusuma pun mengajak anggotanya untuk segera beradaptasi dan melakukan transformasi digital.

Tujuannya, untuk menciptakan ekosistem data center yang tangguh dan berkelanjutan (sustainable) agar dapat tetap kompetitif.

“Pelaku industri data center nasional harus segera mengadopsi teknologi data center pintar dan terintegrasi agar dapat memberikan analisis komprehensif untuk pengelolaan yang efektif dan efisien, ungkap Hendra.

Dengan demikian, era edge computing tak akan menjadi ancaman bagi industri. Lebih dari itu, para pelaku industri justru harus bisa memanfaatkan era edge computing dengan penggunaan teknologi yang tepat.

Sumber: Kompas.com