SOCIALLY RESPONSIBLE CULINARY BUSINESS

Whatsapp image 2020 04 21 at 11.56.45
  • KSEI SEF Gunadarma

  • 21 Apr 2020

  • Artikel

Perlu diketahui bahwa hanya empat dari sepuluh orang di Asia yang mengadopsi gaya hidup sehat. Data ini bersumber dari salah satu lembaga riset dunia bernama Nielson. Enam orang sisanya yang tidak menerapkan gaya hidup sehat beranggapan bahwa makanan sehat cenderung lebih mahal dan memiliki cita rasa yang tidak begitu enak daripada makanan biasa. Anggapan tersebut pun menginspirasi seorang wanita vegetarian bernama Helga Angelina, seorang Co-Founder restoran makanan sehat bernama Burgreens. Burgreens merupakan salah satu brand yang menginisiasi gaya hidup sehat di Indonesia dengan konsep uniknya yaitu healthy fast food. Selain itu, social enterprise juga menjadi konsep unik lainnya yang diadopsi oleh Burgreens. Social enterprise juga merupakan konsep baru yang belakangan menjadi trend bisnis modern. Tak heran bila Burgreens berhasil meraih penghargaan Forbes 30/30 Asia. Konsep social enterprise ini diterapkan Burgreens dengan cara memberdayakan para petani dan ibu rumah tangga yang tinggal di daerah. Perbedaan mencolok dari konsep bisnis yang diterapkan Burgreens terletak pada tujuan bisnisnya yaitu berorientasi pada kesejahteraan sosial masyarakat khususnya petani serta membumikan pola hidup sehat  melalui perbaikan pola makan.

Burgreens didirikan pada tahun 2013 oleh Max Mandias selaku Founder sekaligus suami dari Co-Founder Burgreens, Helga Angelina. Motivasi terbesar mereka untuk mendirikan restoran makanan sehat ini karena melihat fenomena munculnya penyakit-penyakit baru seperti auto immune. Mereka mendapatkan wawasan baru setelah mengunjungi salah satu acara di Amsterdam, Belanda yang dimana dalam acara tersebut disampaikan fakta bahwa penyakit auto immune berhasil disembuhkan hanya dengan mengganti pola makan menjadi lebih sehat. Dari motivasi tersebut, berdirilah Burgreens dengan taglinenya “Healthy Plant-Based Eatery”. Konsep produknya menggunakan bahan-bahan organik (healthy and sustainable food) yang dibeli langsung dari para petani yang mereka berdayakan. Mereka juga memastikan supply chain yang mereka miliki terjamin kesejahteraannya dengan menerapkan kerjasama inclusive growth dengan para petani, dimana kegagalan dan kesuksesan dari kerjasama ini ditanggung bersama. Saat ini, Burgreens telah bekerjasama dengan 20 komunitas petani dengan jumlah kurang lebih 200 orang petani di Indonesia. Mereka menerapkan kerjasama tersebut karena mempertimbangkan fenomena beberapa tahun ke belakang, jumlah petani di Indonesia kian menurun karena berbagai faktor, salah satunya karena komoditi yang mereka tanam dan hasilkan dihargai dengan harga yang tidak sewajarnya. Hal ini tentunya berdampak pada kesejahteraan petani itu sendiri, yang bisa dikatakan tidak terjamin. Selain itu, Burgreens juga mendukung gerakan zero waste dengan menggunakan ECO packaging untuk produk mereka. Burgreens juga memberdayakan para ibu rumah tangga di salah satu desa yang terletak di Tangerang sebagai production staff, administrasi dan quality control. Bekerjasama dengan Yayasan Usaha Mulia yang membawahi Organic Farm Cipanas, Burgreens membuat berbagai pelatihan serta pembekalan mengenai pertanian untuk para anak petani yang nantinya akan menjadi petani muda. Hal ini merupakan upaya untuk melestarikan petani Indonesia sekaligus agar supply dari bahan makanan organik tetap terjaga atau konsisten.

Konsep bisnis berbasis sosial ini ternyata tidak terlepas dari berbagai tantangan. Helga mengatakan bahwa tiga tahun pertama merupakan tahun terberat bagi bisnis mereka. Tantangan tersebut diantaranya sistem manajemen yang belum berjalan sesuai standar karena masalah pencatatan serta pembukuan, tidak adanya cost salary untuk Founder dan Co-Founder serta sebagian besar alokasi dana untuk capital expenditure bukan working capital (modal kerja) yang digunakan untuk pembelian bahan baku dan lain sebagainya. Namun, dengan berbagai tantangan yang ada, bisnis berbasis social enterprise ini mampu untuk bangkit dan seakan menjadi inspirasi bagi perkembangan bisnis di Indonesia saat ini. Burgreens pun terus mengembangkan sistem manajemen bisnis mereka dengan berusaha menarik para investor untuk bekerja sama mengembangkan bisnis dengan misi sosial ini. Cara yang mereka terapkan dengan mengutamakan kualitas produk dan kualitas layanan agar tercipta branding melalui word of mouth (dari mulut ke mulut). Lalu, Founder dan Co-Founder juga terlibat aktif dalam mengajak masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat melalui acara-acara eating movement dengan menjadi pembicara dalam acara tersebut. Menurut Helga, membangun komunitas untuk kemajuan bisnis berbasis social enterprise juga perlu karena pergerakan yang masif akan mendorong munculnya trend baru di masyarakat sehingga bukan tidak mungkin terbentuk norma-norma baru, misalnya dahulu merokok dianggap kegiatan yang keren, namun lambat laun bisa jadi kegiatan merokok banyak ditinggalkan karena norma-norma baru yang terbentuk di masyarakat mengenai pola hidup sehat. Langkah selanjutnya yang diterapkan agar social impact dapat tercapai dengan baik yakni menjaga kepercayaan masyarakat terkait produk bisnis yang kita tekuni, dalam hal ini yaitu makanan sehat. Salah satu cara yang dapat dilakukan yakni memanfaatkan sosial media untuk sarana berbagi edukasi melalui publikasi terkait dampak sosial yang sudah dilakukan oleh bisnis sosial yang kita jalankan beserta bukti yang dapat dipertanggung jawabkan.

Menjalani bisnis sosial memang tidak semudah yang dibayangkan, namun tidak mustahil pula untuk dijalankan, dari yang awalnya Burgreens hanya memiliki satu cabang, kini dapat ditemui di berbagai Mall di Jakarta serta terkoneksi dengan ratusan petani di Indonesia sebagai pemasok utama bahan baku organik mereka. Salah satu hal yang berdampak dari sistem bisnis yang dijalankan Burgreens adalah biaya yang dikeluarkan lebih tinggi sekitar 5%-7% dibandingkan bisnis konvensional, namun kepuasan yang didapat tentunya berkali lipat karena tidak hanya menguntungkan tapi juga memberdayakan. Diakhir pembicaraannya pada salah satu platform podcast, Helga Angelina mengatakan bahwa hidup sehat merupakan investasi karena tentunya membayar biaya rumah sakit jauh lebih mahal berkali lipat. Oleh karenanya, mari melangkah bersama untuk mewujudkan Indonesia hidup sehat.

Sumber: Inspigo.id

Penulis: Indah Nur Maulina (Staff Kementerian Media Komunikasi & Informasi)