Publikasi - Artikel

  • 21 Apr 2020

  • 0 Comments

  • Artikel

Perlu diketahui bahwa hanya empat dari sepuluh orang di Asia yang mengadopsi gaya hidup sehat. Data ini bersumber dari salah satu lembaga riset dunia bernama Nielson. Enam orang sisanya yang tidak menerapkan gaya hidup sehat beranggapan bahwa makanan sehat cenderung lebih mahal dan memiliki cita rasa yang tidak begitu enak daripada makanan biasa. Anggapan tersebut pun menginspirasi seorang wanita vegetarian bernama Helga Angelina, seorang Co-Founder restoran makanan sehat bernama Burgreens. Burgreens merupakan salah satu brand yang menginisiasi gaya hidup sehat di Indonesia dengan konsep uniknya yaitu healthy fast food. Selain itu, social enterprise juga menjadi konsep unik lainnya yang diadopsi oleh Burgreens. Social enterprise juga merupakan konsep baru yang belakangan menjadi trend bisnis modern. Tak heran bila Burgreens berhasil meraih penghargaan Forbes 30/30 Asia. Konsep social enterprise ini diterapkan Burgreens dengan cara memberdayakan para petani dan ibu rumah tangga yang tinggal di daerah. Perbedaan mencolok dari konsep bisnis yang diterapkan Burgreens terletak pada tujuan bisnisnya yaitu berorientasi pada kesejahteraan sosial masyarakat khususnya petani serta membumikan pola hidup sehat  melalui perbaikan pola makan.

Burgreens didirikan pada tahun 2013 oleh Max Mandias selaku Founder sekaligus suami dari Co-Founder Burgreens, Helga Angelina. Motivasi terbesar mereka untuk mendirikan restoran makanan sehat ini karena melihat fenomena munculnya penyakit-penyakit baru seperti auto immune. Mereka mendapatkan wawasan baru setelah mengunjungi salah satu acara di Amsterdam, Belanda yang dimana dalam acara tersebut disampaikan fakta bahwa penyakit auto immune berhasil disembuhkan hanya dengan mengganti pola makan menjadi lebih sehat. Dari motivasi tersebut, berdirilah Burgreens dengan taglinenya “Healthy Plant-Based Eatery”. Konsep produknya menggunakan bahan-bahan organik (healthy and sustainable food) yang dibeli langsung dari para petani yang mereka berdayakan. Mereka juga memastikan supply chain yang mereka miliki terjamin kesejahteraannya dengan menerapkan kerjasama inclusive growth dengan para petani, dimana kegagalan dan kesuksesan dari kerjasama ini ditanggung bersama. Saat ini, Burgreens telah bekerjasama dengan 20 komunitas petani dengan jumlah kurang lebih 200 orang petani di Indonesia. Mereka menerapkan kerjasama tersebut karena mempertimbangkan fenomena beberapa tahun ke belakang, jumlah petani di Indonesia kian menurun karena berbagai faktor, salah satunya karena komoditi yang mereka tanam dan hasilkan dihargai dengan harga yang tidak sewajarnya. Hal ini tentunya berdampak pada kesejahteraan petani itu sendiri, yang bisa dikatakan tidak terjamin. Selain itu, Burgreens juga mendukung gerakan zero waste dengan menggunakan ECO packaging untuk produk mereka. Burgreens juga memberdayakan para ibu rumah tangga di salah satu desa yang terletak di Tangerang sebagai production staff, administrasi dan quality control. Bekerjasama dengan Yayasan Usaha Mulia yang membawahi Organic Farm Cipanas, Burgreens membuat berbagai pelatihan serta pembekalan mengenai pertanian untuk para anak petani yang nantinya akan menjadi petani muda. Hal ini merupakan upaya untuk melestarikan petani Indonesia sekaligus agar supply dari bahan makanan organik tetap terjaga atau konsisten.

Konsep bisnis berbasis sosial ini ternyata tidak terlepas dari berbagai tantangan. Helga mengatakan bahwa tiga tahun pertama merupakan tahun terberat bagi bisnis mereka. Tantangan tersebut diantaranya sistem manajemen yang belum berjalan sesuai standar karena masalah pencatatan serta pembukuan, tidak adanya cost salary untuk Founder dan Co-Founder serta sebagian besar alokasi dana untuk capital expenditure bukan working capital (modal kerja) yang digunakan untuk pembelian bahan baku dan lain sebagainya. Namun, dengan berbagai tantangan yang ada, bisnis berbasis social enterprise ini mampu untuk bangkit dan seakan menjadi inspirasi bagi perkembangan bisnis di Indonesia saat ini. Burgreens pun terus mengembangkan sistem manajemen bisnis mereka dengan berusaha menarik para investor untuk bekerja sama mengembangkan bisnis dengan misi sosial ini. Cara yang mereka terapkan dengan mengutamakan kualitas produk dan kualitas layanan agar tercipta branding melalui word of mouth (dari mulut ke mulut). Lalu, Founder dan Co-Founder juga terlibat aktif dalam mengajak masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat melalui acara-acara eating movement dengan menjadi pembicara dalam acara tersebut. Menurut Helga, membangun komunitas untuk kemajuan bisnis berbasis social enterprise juga perlu karena pergerakan yang masif akan mendorong munculnya trend baru di masyarakat sehingga bukan tidak mungkin terbentuk norma-norma baru, misalnya dahulu merokok dianggap kegiatan yang keren, namun lambat laun bisa jadi kegiatan merokok banyak ditinggalkan karena norma-norma baru yang terbentuk di masyarakat mengenai pola hidup sehat. Langkah selanjutnya yang diterapkan agar social impact dapat tercapai dengan baik yakni menjaga kepercayaan masyarakat terkait produk bisnis yang kita tekuni, dalam hal ini yaitu makanan sehat. Salah satu cara yang dapat dilakukan yakni memanfaatkan sosial media untuk sarana berbagi edukasi melalui publikasi terkait dampak sosial yang sudah dilakukan oleh bisnis sosial yang kita jalankan beserta bukti yang dapat dipertanggung jawabkan.

Menjalani bisnis sosial memang tidak semudah yang dibayangkan, namun tidak mustahil pula untuk dijalankan, dari yang awalnya Burgreens hanya memiliki satu cabang, kini dapat ditemui di berbagai Mall di Jakarta serta terkoneksi dengan ratusan petani di Indonesia sebagai pemasok utama bahan baku organik mereka. Salah satu hal yang berdampak dari sistem bisnis yang dijalankan Burgreens adalah biaya yang dikeluarkan lebih tinggi sekitar 5%-7% dibandingkan bisnis konvensional, namun kepuasan yang didapat tentunya berkali lipat karena tidak hanya menguntungkan tapi juga memberdayakan. Diakhir pembicaraannya pada salah satu platform podcast, Helga Angelina mengatakan bahwa hidup sehat merupakan investasi karena tentunya membayar biaya rumah sakit jauh lebih mahal berkali lipat. Oleh karenanya, mari melangkah bersama untuk mewujudkan Indonesia hidup sehat.

Sumber: Inspigo.id

Penulis: Indah Nur Maulina (Staff Kementerian Media Komunikasi & Informasi)

  • 13 Apr 2020

  • 0 Comments

  • Artikel

Kepemimpinan seharusnya tidak dilihat sebagai fasilitas untuk menguasai, tetapi harus dimaknai sebagai suatu pengorbanan dan amanah yang harus diemban dengan sebaik-baiknya. Kepemimpinan juga bukan merupakan hal kesewenang-wenangan untuk bertindak, tetapi kewenangan untuk melayani dan mengayomi dan berbuat dengan seadil-adilnya. Kepemimpinan adalah sebuah keteladanan dan kepeloporan dalam bertindak. Kepemimpinan semacam ini akan muncul jika dilandasi dengan semangat amanah, keikhlasan dan nilai-nilai keadilan.

Menjadi seorang leader bukan tentang ada berapa banyak orang yang berada disekeliling kita sehingga menimbulkan rasa kesendirian, tapi kesendirian hadir atas dasar pemikiran kita. Kadang yang kita rasakan sebagai pemimpin, banyak hal yang ada di kepala kita, banyak hal yang menjadi challenge dan membuat kita tidak terbuka dengan team. Seperti hal nya mengungkapkan, “apakah benar decision kita?”. Ketika kita tidak bisa menceritakannya ke orang lain dan merasa lonely, hanya saja lonely yang dirasakan bukan hanya tidak bisa bercerita kepada orang lain, tetapi selalu merasa ada yang kurang dan harus berada di tengah-tengah mengikuti trend. Maka diperlukan sebuah partnership untuk menjadi tempat sharing. Tetapi lonely bukan tentang tidak memiliki teman mengobrol, hanya saja tidak bisa menceritakan cerita secara penuh dan cenderung membatasi cerita, tergantung dengan siapa. Hal ini juga disebabkan karena rasa dituntut dan tanggung jawab yang dipikul seseorang, sehingga yang menimbulkan rasa kesendirian bagi seorang leader bisa jadi bukan keadaan, melainkan tuntutan.

Ambisi atau kemauan diri sendiri merupakan suatu challenge bagi seorang leader dan bisa menjadi pemicu stress bagi diri sendiri. Pengetahuan yang kurang, ditinggal oleh partner, pengalaman yang belum banyak, relasi yang masih sedikit, bahkan kesalahan sendiri merupakan tantangan bagi seorang leader. Hal yang perlu diperhatikan adalah kegagalan akan membuat kita belajar. Berkaca dari keterpurukan dan menyiapkan mental untuk segala hal yang akan terjadi di depan merupakan suatu kunci bagi seorang leader untuk bangkit. Selain itu jangan hanya berfokus pada satu hal, melainkan fokus dengan hal lain, agar memiliki cadangan apabila terjadi masalah pada hal yang sedang kita jalankan, hal ini akan menumbuhkan mindset “tidak takut”.

Entrepreneur dan investor, jangan sampai entrepreneurship membangun ego kita, the time we made person potentially partner, semua potentially partnership diletakkan di partner, hal ini akan membuat kita tidak merasa lonely atau sendiri dalam melakukan sesuatu. Seringkali entrepreneurship mengalami perpecahan karena ego yang dimiliki. Dalam hukum leadership Maxwell mengajarkan untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain atau dengan partner kita meskipun kita merupakan seorang leader. Dengan hal seperti itu, kita dapat mengenal orang-orang disekeliling kita, setidak nya kita dapat mengetahui masalah krusial dari partner kita yang dapat berdampak pada pekerjaan atau hal yang dapat menumbuhkan orang tersebut. Ketika partner kita mengalami suatu masalah, sudah saat nya bagi seorang leader untuk menjalin hubungan baik, atau dengan kata lain mengubah posisi dari seorang leader tapi menjadi teman yang nyaman dan juga support system untuk membantu mencari jalan keluar dengan partner tersebut. Kemudian emosi bukan merupakan solusi, melainkan harus objektif. Karena leadership merupakan hubungan dua arah antara pemimpin dan tim yang kita pimpin. Pada dasarnya, kesempatan tidak dapat dibangun berulang-ulang, banyak hal yang harus kita selesaikan secara objektif, tanpa emosi, jelas.

Menjadi leader harus mindful. Tidak setiap hal harus melalui proses yang cepat dan setiap hal tidak harus melalui proses seperti yang kita mau. Ada waktu bagi kita untuk terus berjalan, dan ada waktu bagi kita untuk berhenti sebentar atau berjalan pelan untuk melihat sesuatu yang lebih besar. Rasa ambisius mampu membuat mindful itu tidak ada. Karena akan membuat kita tidak tenang dengan segala pemikiran negatif. Berhenti memikirkan orang lain merupakan solusi. Mungkin kita melihat kehidupan orang lain yang lebih baik dari kita, tapi mungkin level stress yang dimiliki orang tersebut lebih dari kita, bisa jadi justru kehidupan kita lebih bahagia dibandingkan dengan mereka. Kita harus lebih bisa menikmati apa yang sudah kita perjuangkan selama ini. Memang rasa cepat puas tidak baik, akan tetapi terkadang manusia tidak mengetahui batas atau kapan saat nya untuk berhenti. Selama kita dikasih energi dan juga kemampuan dari Tuhan untuk terus berkarya, maka kita harus memaksimalkan hal tersebut. Tetapi, jika Tuhan tidak memberikan nikmat tersebut, sudah seharusnya bagi kita memiliki rasa legowo dalam menerima kekalahan tersebut dan terus mencoba. Jangan sampai pemikiran negatif mempengaruhi kita ketika kita mengalami kekalahan, karena pemikiran negatif akan menjadi beban untuk kita, terutama bagi seorang leader. Tidak selama nya bagi kita untuk kerja keras, ketika kita merasa cukup tenang, mengetahui kapan bagi kita untuk lari dan berhenti sejenak. Mindful adalah rasa syukur.

Rasa kesendirian hadir karena kita merasa orang disekitar kita tidak memahami kita, padahal kita harus lebih mengerti diri kita sendiri. Jadi, bagaimana untuk tidak merasa kesepian atau merasa sendiri, jawabannya bukan mencari teman, tetapi mencari diri kita sendiri. Kita harus mengevaluasi apa yang membuat kita merasa sendiri; apa yang dirasa kurang. Ketika kita membutuhkan orang lain untuk memberikan apresiasi atau pujian dan merasa bahwa hal-hal seperti itu yang akan memberikan semangat untuk kita menjalani hidup, kita harus mengubah pemikiran tersebut. Karena kenyataannya, kehidupan bukan hanya tentang kesuksesan maupun disanjung banyak orang. Seandai nya pemikiran pujian dan disanjung merupakan definisi sukses yang kita maksud, maka kita akan merasa tidak mendapatkan apa-apa. Maka, kita perlu untuk selalu mencari tahu kenapa kita merasa kesepian dan sendiri. Berusaha untuk mengetahui diri kita, menerima diri kita apa ada nya, mengetahui diri sendiri; dimana letak kelemahan maupun kelebihan kita, maka perasaan kesepian dan sendiri itu tidak akan muncul dalam diri kita. Loneliness juga hadir disebabkan perasaan yang tidak diterima, seperti orang tua tidak mendukung keputusan kita ataupun ketika orang lain tidak melihat value dari diri kita. Selain itu perasaan bahwa diri kita berbeda dari yang lain juga dapat menimbulkan rasa kesendirian. Terkadang karena perasaan berbeda ini lah yang membuat kita untuk selalu menunjukkan diri, padahal obat dari rasa kesendirian adalah damai dengan diri sendiri dan merasa berbeda bukan berarti aneh. Bisa jadi justru banyak orang yang justru menjadi seorang pemimpin karena dia berbeda dari lainnya.

Membuat pondasi hubungan baik antara seorang leader dan tim merupakan hal yang penting. Maka dengan begitu, orang mampu memahami bagaimana karakteristik dari leader tersebut. Bukan hanya mampu menerima kita, kita juga membutuhkan orang disekeliling kita atau tim untuk membuat kita menjadi lebih baik lagi. Seorang leadership harus objektif jangan sampai kita mudah memberikan respon yang buruk, terutama bila tim kita merupakan generasi milenial. Semua butuh proses, maka kita harus lebih bersabar dan memberikan pelajaran dan juga koreksi.

Wajar bagi seseorang untuk merasakan tekanan, hargai yang harus dibayar untuk menjadi seorang leader, bisa lebih stress, lebih banyak tekanan dan juga challenge daripada yang lain. Jadi kunci nya adalah pencarian pada mindful living bahwa menjadi mindful leader itu penting, karena apabila seorang leader memiliki mental yang negatif seperti insecure maka leader tersebut akan selalu merasa kurang dan tim juga akan merasakan stress yang akan buruk bagi kesehatan perusahaan. Selain itu selalu ingat perjalanan atau proses untuk tumbuh menjadi seorang leader, berusaha untuk menjalani hukum leadership yang benar. Dan agar tidak merasakan kesendirian lalu menumbuhkan leader-leader baru di dalam organisasi ataupun suatu perusahaan. Karena aset terpenting di dalam suatu perusahaan adalah seorang leader. Maka perusahaan dengan jumlah leader terbanyak dan kualitas yang baik pasti akan mendorong pertumbuhan yang lebih baik dan tidak akan menutup kemungkinan pelipatgandaan. Karena yang bisa merubah dunia adalah manusia as a leader.

Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam Al-Sulthaniyah menjelaskan mengenai hukum dan tujuan menjalankan kepemimpinan. Beliau mengatakan bahwa menegakkan kepemimpinan merupakan suatu keharusan dalam  kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menurut pandangan Islam. Beliau juga mengatakan bahwa keberadaan pemimpin adalah sangat penting karena seorang pemimpin memiliki dua tujuan:

1. Likhilafati an-Nubuwwah fi-Harosati ad-Din, yakni sebagai pengganti misi kenabian untuk menjaga agama.

2.   Wa sissati ad Dunya, untuk memimpin atau mengatur urusan dunia.

Dengan kata lain, tujuan suatu kepemimpinan adalah untuk menciptakan rasa aman, keadilan, kemaslahatan, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, mengayomi rakyat, mengatur, dan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Sumber: Inspigo.id

Penulis: Dian Ayu Safitri

  • 7 Apr 2020

  • 0 Comments

  • Artikel

Hallo Ekonom Rabbani!

Tahukah kalian kalau otak manusia dewasa itu membuat 30.000 keputusan tiap harinya. Tidak melakukan apapun mengenai isu tertentu, juga merupakan sebuah keputusan, dan hari ini, kita yang #dirumahaja pun telah membuat keputusan besar lho. Bahwa kita harus dirumah aja untuk membantu pemerintah menangani kasus penyebaran pandemi COVID-19.

Kali ini, materi luar biasa ini di dapat dari seorang narasumber wanita hebat di Indonesia, Najwa Shihab. Ia membahas tentang sebuah tema yang sangat berhubungan dengan aktivitas kita sehari-hari, dan akan selalu ada di kehidupan setiap manusia. Tema tersebut adalah Judgement and Decision Making. Judgement & decision making itu penting di semua karir. Bahkan bukan hanya karir, tetapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari mengambil keputusan baik kecil maupun besar, keputusan hari ini yang kemudian berpengaruh atau tidak berpengaruh. Jadi, kapan pun, dimana pun, dan siapapun anda itu adalah salah satu skill yang sangat penting.

Topik kali ini akan dirangkum menjadi 10 point utama:

1. Orang Sukses, Orang yang Mau Belajar

Apasih yang membuat orang berhasil? Kenapa seorang pemimpin begitu dicintai? Kenapa orang begitu punya ketabahan dan luar biasa dalam kekerasan hati untuk melakukan apapun yang tidak dilakukan. Dan kenapa ada orang-orang yang begitu cepat dilupakan bahkan ketika ia masih berada dan melakukan pekerjaannya?

Jawabannya adalah pertama, orang yang selalu mau belajar dan mau mendengarkan orang lain. Karena terlihat sekali mana orang yang tidak terbiasa dalam perbedaan pendapat dan ketika dikritik akan langsung melakukan defensif.

Orang yang berhasil kerap kali orang yang mau mendengarkan, selalu mau belajar, dan tahu bahwa ketidaktahuan dia seharusnya menjadi cara dia untuk mencari tahu. Yang kedua adalah orang yang punya toleransi tinggi sehingga selalu mencari persamaan ditengah perbedaan. Dunia semakin sensitif. Jadi dunia yang semakin sensitif membutuhkan kita yang justru bisa lebih dari bukan hanya belajar dalam menerima perbedaan, tetapi belajar untuk menjadi orang-orang yang toleran.

Sudahkah kamu mempunyai dua kualitas ini?

2. Life is an Endless String of Decisions

Setiap hidup memang selalu ada pilihan-pilihan keputusan penting yang perlu diambil dan membutuhkan proses yang panjang. It’s always decision after decision after decision!

3. Decision Making is Not Easy. It is an Art

The world of the information is changing so fast, if you are finish changing, you are finished. Hidup kita adalah konsekuensi dari keputusan yang kita ambil. Ketika kita menyadari konsekuensi dari sebuah keputusan besar ataupun kecil, pemahaman tentang apa yang ada dibalik proses pengambilan keputusan akan menjadi semakin nyata.

4. Preparing Your Biggest Decision

Saatnya mencoba petualangan baru dan mencari perspektif lain. Kalau kita tidak berubah maka kita akan ditinggal perubahan. Usia terlalu ringkas jika dilalui tanpa melakukan perubahan. Hidup terlalu biasa-biasa saja bila kita tidak melakukan terobosan.

What are we going? What do we want to see our self in the next ten years? In the next twenty years?

Dan apa yang harus kita lakukan untuk mencapai itu? So, prepare your biggest decision!

5. Head vs Heart

Terkadang keputusan yang akan diambil dipengaruhi oleh intuisi atau logika kita. Keputusan yang dikeluarkan harus tetap sesuai dengan rasa yang pas. What do we feel right? Dalam memilih untuk mendahulukan intuisi atau logika, itu semua kembali pada bagaimana kita terbiasa dalam mengambil keputusan-keputusan sebelumnya

6. Having an Option is a Luxury

Mempunyai pilihan adalah suatu kemewahan, suatu hal istimewa yang harus disyukuri. Ketika pilihan itu ada, dan kita bertanggung jawab dalam pilihan yang diambil, itu adalah kemewahan yang luar biasa. Kemewahan untuk bisa menentukan apa yang menurut kita akan menjadi yang terbaik.

7. Information Matters, They Influence Your Decision

Dengan memadukan data dari berbagai sumber, menelusuri sebab akibat, kecenderungan, dan keterkaitan dari berbagai pihak, Najwa Shihab ingin semua penontonnya bisa membuat keputusan dengan cara menerjemahkan informasi yang sudah dikemas sedemikian rupa sehingga bisa membuat keputusan yang tepat.

8. Fast Decision = Fast Thingking

Optimalkan informasi yang dimiliki, dan melibatkan orang lain untuk membantu menganalisa pilihan yang kita punya. Otot skill decision making juga harus terus dilatih agar terbiasa mengambil keputusan di dalam situasi yang mendesak.

Remember this: “You have to be different, don’t blend in others.”

9. Maintaining Objectivity

Dalam pengambilan keputusan, penting agar kita tidak terpengaruh oleh hal-hal bias, asumsi, atau persepsi. Karena keputusan yang terbentuk atas hal-hal tersebut bisa membuat keputusan yang kita ambil jadi salah kaprah. Kuncinya adalah tetap profesional dan objektif. Tetapkan tujuan akhir, sehingga kita bisa fokus terhadap hasil yang diinginkan.

10. Strengthen Your Decision Making Muscle

Ketika 9 poin di atas sudah kita lakukan, maka poin terakhir adalah kuatkan otot-otot pengambilan keputusan kita. Semua perlu dilatih. Semua orang yang sukses pasti mempunyai skill mengambil keputusan yang tinggi, mereka juga siap untuk mempertanggungjawabkan keputusan tersebut dan berkomitmen penuh dalam melaksanakan keputusan yang diambil.

Step dalam proses pengambilan keputusan ternyata mudah. Pertama adalah ketahui masalahnya, selanjutnya adalah tentukan tujuan akhir lalu kumpulkan dan terjemahkan informasi, pertimbangkan berbagai pilihan, kemudian mulai memutuskan.

Mau kan kalian para ekonom rabbani bisa sukses seperti Najwa Shihab? Yuk kita coba aplikasikan decision making skill di keseharian!

Akhir kata dari saya, remember this good people: If you spend your money in your head, no one can take it away from you!

Sumber: Inspigo.id

Penulis: Nadya Salsabila Haqqoni

 

 

  • 2 Jan 2020

  • 0 Comments

  • Artikel

            Zakat merupakan salah satu instrumen dari filantropi ekonomi Islam. Namun, jika kita telisik makna dari firman Allah QS. At-Taubah ayat 103 yang artinya nya adalah “Ambilah zakat dari sebagian harta mereka...” apabila kita pahami makna dari ayat tersebut bahwasannya zakat ini bersifat wajib yang harus di pungut oleh para Ulil Amri dalam sebuah negara. Zakat sendiri dibagi menjadi dua yakni, Zakat Fitrah yang dikeluarkan sebelum shalat Ied pada bulan Ramadhan dan Zakat Mal atau zakat harta.

            Fenomena kemiskinan tidak pernah lepas menjadi permasalahan dalam sebuah negara di seluruh peradaban umat manusia. Padahal, seharusnya negara lah yang menjamin kesejahteraan hidup masyarakatnya. Permasalahan ini sedikit demi sedikit bisa di minimalisir apabila perputaran ekonomi atau velocity itu dapat berjalan dengan baik. Harta tidak hanya berputar diantara orang-orang kaya saja, namun harus diberikan atau disedekahkan kepada orang yang membutuhkan seperti tercantum pada QS. Al-Hasyr ayat 7.

            Apakah zakat bisa meningkatkan ekonomi masyarakat dan menjadi solusi bagi permasalahan kemiskinan? Zakat dalam ekonomi Islam sejatinya tidak dirancang hanya sebagai instrumen keagamaan, namun juga instrumen keuangan yang dapat dikelola dan di retribusi untuk mendorong produktivitas perekonomian dan konsumtif rumah tangga. Zakat bisa difungsikan sebagai kebijakan fiskal oleh pemerintah. Di Indonesia, praktik zakat yang diterapkan oleh Lembaga Amil Zakat besar, dimana dana zakat dan dana sosial lainnya seperti wakaf, infaq dan sedekah digunakan untuk peningkatan fungsi alokasi pemerintah seperti pembangunan sekolah dan rumah sakit yang layanannya di gratiskan kepada masyarakat fakir dan miskin.

            Faktanya, dana zakat yang mempunyai potensi sebesar 200 triliun menurut Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), namun hanya 8,1 triliun yang terhimpun. Hal ini sangat disayangkan melihat mayoritas penduduk di Indonesia mayoritas merupakan muslim. Zakat bisa dijadikan sebagai solusi dalam upaya pengentasan kemiskinan karena zakat dikenakan pada basis yang luas dan meliputi berbagai aktivitas perekonomian. Zakat tidak hanya dikenakan pada penghasilan dari sektor jasa, namun juga pada sektor-sektor perekonomian yang lebih luas seperti pertanian, peternakan, pertambangan, perikanan, dan lain sebagainya. Gagasan terbaru yang dibuat oleh BAZNAS yakni Zakatnomics adalah sebuah konsep untuk memajukan ekonomi masyarakat melalui zakat. “Konsep ini didefinisikan sebagai kesadaran untuk membangun tatanan ekonomu baru untuk mencapai kebahagiaan, keseimbangan kehidupan dan kemuliaan manusia yang didasari dari semangat dan nilai-nilai Islami melalui zakat” menurut Prof Ahmad Satori Ismail, Anggota BAZNAS.

            Zakat tidak hanya difungsikan sebagai pemenuhan konsumtif bagi para mustahiq, zakat juga dapat mendorong ekonomi yang produktif. Semua tujuan dari ekonomi Islam adalah kemaslahatan umat atau kesejahteraan manusia di dalamnya sehingga dapat terjaganya Maqashid Syariah, yakni hifdzu dien (agama), hifdzu nafs (jiwa), hifdzu aql (akal), hifdzu nasl (keturunan) dan hifdzu maal (harta). Dalam kaitannya dengan Zakatnomics, pemeliharaan terhadap Maqashid syariah merupakan tujuan yang dapat dicapai.

            Dalam hal perlindungan terhadap aspek Dien atau agama, perekonomian yang dibangun melalui Zakatnomics menempatkan zakat sebagai salah satu instrumen penting dan utama dalam perekonomian, mengingat zakat merupakan rukun Islam yang ketiga. Hal ini membuktikan bahwa di dalam agama besar kaitannya dengan perekonomian. Dalam perlindungan terhadap aspek Nafs atau jiwa, zakatnomics bertujuan untuk memenuhi kebutuhan primer dari setiap manusia, sehingga setelah terpenuhinya kebutuhan primer seperti pangan akan menimbulkan jiwa yang positif. Dalam perlindungan terhadap aspek Aql atau Akal, mekanisme dari zakatnomics adalah dengan mengentaskan kemiskinan yang dicapai salah satunya adalah melalui pendidikan, apabila mustahiq memiliki aksesibilitas untuk menempuh pendidikan akan dapat mendorong dirinya untuk memperbaiki kehidupan ekonominya. Dalam perlindungan terhadap aspek Nasl atau keturunan, zakat memiliki fungsi tidak langsung pada aspek ini, karena pada dasarnya zakat diberikan untuk rumah tangga dan keluarga saat ini. Namun demikian, zakatnomics diharapkan dapat mendukung program-program yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat saat ini dan saat yang akan datang. Adapun zakat merupakan instrumen utama dalam perlindungan terhadap aspek Maal atau harta, yakni kebijakan ekonomi dengan mengutamakan economic welfare dapat diwujudkan melalui zakat. Dalam perspektif zakatnomics, indikator-indikator yang dijadikan sebagai acuan untuk memperbaiki perekonomian masyarakat adalah dengan memperhatikan harta yang kita dapat berasal darimana dan harta yang kita keluarkan digunakan untuk apa.

            Pada perspektif zakatnomics, kebijakan-kebijakan ekonomi yang diarahkan berfokus pada keadilan distribusi kekayaan yakni melalui zakat. Hal ini karena zakat memberikan kesempatan bagi semua orang untuk merasakan kesejahteraan melalui ekonomi dalam hidupnya. Konsep zakatnomics juga menekankan pada instrumen keuangan tanpa adanya salah satu pihak yang dirugikan.

            Zakatnomics merujuk pada nilai-nilai dari zakat itu sendiri. Berdasarkan definisinya, terdapat empat nilai yang akan dibangun oleh zakatnomics untuk dapat diimplementasikan dalam pembangunan ekonomi yang tujuannya adalah meningkatkan perekonomian masyarakat (Purwakananta, 2018), yakni:

1.   Semangat Ketakwaan

Nilai yang dibangun melalui zakatnomics salah satunya adalah ketakwaan melalui nilai-nilai agama dalam peningkatan perekonomian. Nilai-nilai yang dimaksudkan adalah berbagi, kepedulian, saling tolong-menolong, keadilan dan menghindari keserakahan dan materialisme.

2.   Production Revolution/Budaya Produksi

Selain zakat yang dapat difungsikan sebagai pemenuhan kebutuhan konsumtif, zakat juga dapat mendorong seseorang untuk produktif dan menghindari sifat konsumerisme. Semangat produksi yang dimaksudkan adalah untuk memaksimumkan maslahah. Zakat yang dikeluarkan untuk mustahiq selain dapat digunakan untuk konsumsi juga dapat mendorong mustahiq untuk mandiri.

3.   Fair Economic/Perekonomian yang Adil

Zakat sebagai fungsinya berupaya untuk meredistribusi pendapatan dari sekelompok yang kaya kepada sekelompok masyarakat yang miskin. Sebagai implementasinya, zakatnomics ini menerapkan fair economic sebagai pilar yang tidak hanya dicerminkan oleh perintah zakat dan sedekah secara umum, namun juga larangan-larangan dalam transaksi perekonomian yang dapat menghalangi keadilan seperti maysir, gharar, riba dan tadlis.

4.   Zakat Implementation/Implementasi Zakat

Implementasi zakat yang disandingkan dengan instrumen filantropi lainnya yakni Infaq, Sedekah dan Wakaf adalah berbagi dan menolong sesama dalam kehidupan perekonomian. Dengan implementasi dari dana zakat khususnya, diharapkan pembangunan ekonomi akan tersebar secara merata dan adil.

Untuk mewujudkan empat nilai diatas, hal utama yang harus diperhatikan adalah pengentasan kemiskinan. Karena masalah kemiskinan merupakan masalah mendasar dari perekonomian. Hal ini penting karena pada akhirnya tujuan yang ingin dicapai dari zakatnomics ini adalah kesejahteraan (maslahah) dari seluruh lapisan masyarakat. Konsep ini sejalan dengan zakat yang sering dikaitkan dengan solusi dari pengentasan kemiskinan. Zakatnomics sebagai salah satu perspektif dari pengimplementasian zakat dan implikasinya terhadap pengentasan kemiskinan. Dimana skema pengentasan kemiskinan dalam zakatnomics terdapat tiga hal utama yang menjadi fokus perhatian, yaitu aspek ekonomi melalui penguatan dan kemandirian ekonomi mustahiq, aspek sosial melalui zakat yang merupakan pemenuhan aspek mendasar dalam kehidupan dan aspek advokasi melalui pengentasan kemiskinan yang merupakan upaya pembelaan hak-hak dari para mustahiq.

Sumber:

Book Publications Puskas Baznas 2019. Zakatnomics: Kajian Konsep Dasar. https://drive.google.com/file/d/1gXZAoMG1Vz5nUfTQexHIfLK8vSPja3K0/view

Republika.co.id. Baznas Gagas Zakatnomics. https://republika.co.id/berita/q2shxg423/baznas-gagas-zakatnomics

Penulis: Anisah Ajeng Jayanti

  • 8 Oct 2019

  • 0 Comments

  • Artikel

SEF Prestasi Juara 1 Lomba Essay

Link Essay:

/uploads/ckeditor/attachments/61/Essay_Putri_Yunela_Sari.pdf

ABSTRAKSI

Faktor pendukung penting perkembangan anak adalah keluarga. Tumbuh kembang anak ditentukan oleh peranan besar orang tua dalam keluarga. Kekerasan pada anggota keluarga dipicu oleh ketidaktahuan orang tua terkait ilmu parenting. Ilmu dasar parenting orang tua harus di kuasai orang tua sebelum tali prnikahan mengikat mereka. Karena orang tua akan menciptakan kader-kader agama dan bangsa yang akan menyelamatkan agama dan bangsa ini dari kerusakan. EduFam sebagai wadah akan memberikan pengetahuan-pengetahuan dari tingkatan dasar sampai tingkatan advance yang akan membantu orang tua memahami terkait pendidikan yang dibutuhkan anak.

Kata Kunci: Ketahanan, Keluarga, Edufam

  • 16 Aug 2019

  • 0 Comments

  • Artikel

#SEFLearn

Sharing Ilmu Ekonomi Syariah SEF UG

Wisata halal merupakan bagian dari industri pariwisata yang dikhususkan bagi para wisatawan muslim, wisata halal ini sesuai dengan syariah dan pelayanan serta aturannya merujuk pada aturan-aturan Islam. Dengan konsep Islami tentunya menarik banyak para wisatawan muslim untuk menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada karena sudah terjamin keamanan dan kehalalannya. Bukan hanya makanan serta barang-barang yang terjamin kehalalannya tetapi juga pelayanan yang halal dalam berinteraksi antara laki-laki dan perempuan.

Perlu diketahui bahwa kebutuhan konsumen muslim terhadap wisata halal ini secara umum meliputi kemudahan untuk beribadah, mendapatkan makanan dan minuman halal dan keamanan dalam perjalanan menggunakan transportasi agar terhindar dari kejahatan. Untuk lebih menarik minat para wisatawan maka perlu ditingkatkan kembali potensi industri pariwisata di Indonesia khususnya.

Seperti yang diketahui sebelumnya bahwa masih banyak industri pariwisata belum sepenuhnya menerapkan dan mengutamakan pariwisata halal berbasis syariah karena melihat kembali persentase dari penduduk muslim di Indonesia saat ini diperkirakan 87%. Istilah pariwisata syariah dalam literatur umumnya disamakan dengan istilah-istilah seperti pariwisata Islam, pariwisata syariah, perjalanan syariah, pariwisata halal, tujuan wisata ramah halal, dan tujuan perjalanan ramah-Muslim, gaya hidup halal, dan lain-lain.

Dari sisi industri, syariah perjalanan adalah produk pelengkap dan tidak menghilangkan jenis wisata konvensional ini. Sebagai cara baru mengembangkan pariwisata di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan keislaman tanpa menghilangkan keunikan dan keaslian daerah tersebut.

Dengan melihat besarnya potensi yang ditawarkan dalam bidang kepariwisataan, negara-negara dengan predikat tujuan wisata favorit dunia terus melakukan pengembangan dan pembangunan bidang pariwisatanya. Indonesia sebagai salah satu negara tujuan destinasi wisata dunia sangat menyadari akan potensi tersebut.

Mengacu pada visi Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, yang bertujuan untuk mengembangkan destinasi dan industri pariwisata yang berkelas dunia, berdaya saing, dan berkelanjutan serta mampu mendorong pembangunan daerah nampaknya telah menjelaskan pandangan pemerintahan kali ini dalam menyikapi dinamika dunia pariwisata internasional yang semakin positif.

Mengingat bahwa Halal Tourism termasuk salah satu jenis bisnis yang high revenue dan high opportunity, maka dibutuhkan dukungan dari berbagai elemen untuk mengembangkan kerangka bisnis sektor pariwisata ini. Wisatawan Non Muslim juga dapat turut serta dalam inovasi kepariwisataan tersebut dikarenakan salah satu instrumen Halal Tourism ialah penyediaan fasilitas dan makanan halal tentunya. Menurut Mohamed Battour dan Mohd Nazari Ismail, definisi dari Halal Tourism dapat digambarkan dengan “Halal Tourism is any object or action which is permissible according to Islamic teachings to use or engage by Muslims in tourism industry

Pengembangan pariwisata meliputi industri pariwisata, tujuan wisata, pemasaran, dan pariwisata kelembagaan. Wisata halal menyajikan berbagai produk halal yang aman untuk dikonsumsi oleh wisatawan Muslim. Namun, bukan berarti turis non-Muslim tidak bisa menikmati wisata halal.

Dalam menerapkan pariwisata halal di Indonesia yang diluncurkan pada 2014, Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menentukan standar halal untuk produk pariwisata. MUI dan Kementerian Pariwisata memastikan bahwa sertifikasi halal tidak hanya dapat digunakan oleh wisatawan Muslim, tetapi juga oleh semua wisatawan.

Ma'ruf Amin, ketua MUI, menegaskan bahwa bagi wisatawan Muslim, pariwisata halal adalah bagian dari propaganda. Bagi non-Muslim, pariwisata halal dengan produk halal adalah jaminan sehat sertifikasi MUI telah melewati Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga harus dijamin sehat dan bersih. Bagi wisatawan Muslim tidak perlu khawatir tentang status halal, dan bagi wisatawan non-Muslim dapat yakin bahwa makanan ini harus sehat dan bersih.

Perlu dicatat bahwa kegiatan wisata dalam Islam harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang berlaku umum, yaitu halal.

Dalam pariwisata halal, destinasi yang dikelola wajib menyediakan makanan halal, menyediakan akses mudah ke tempat ibadah, dan juga menyediakan akomodasi dan layanan sesuai standar syariah. Kementerian Parisiwata meluncurkan pariwisata halal di Indonesia dengan tujuan menjadikan Indonesia tujuan yang ramah bagi wisatawan Muslim. Bukan hanya tujuan wisata, fasilitas yang mendukungnya harus sesuai dengan standar halal (bersertifikat) MUI.

Karena itu, pariwisata halal harus dikembangkan melalui agen perjalanan, sehingga mendorong wisatawan Muslim menjadi pariwisata halal yang ramah dan nyaman. Pengembangan pariwisata berdasarkan prinsip-prinsip diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pengembangan pariwisata dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan budaya dan alam, dan kebutuhan manusia untuk melakukan perjalanan.

Masyarakat Muslim tentunya berminat untuk mengikuti wisata religious dengan menunjukkan perjalanan kegiatan dengan tujuan motivasi atau keagamaan yang dilakukan oleh kelompok agama (Muslim, Kristen, Hindu, Budha), yang biasanya dengan mengunjungi tempattempat suci agama atau tokoh agama. Definisi ini berlaku juga untuk makna ziarah misalnya sebagai bagian dari kegiatan wisata. Oleh karena itu, wisata religi sebagai kegiatan ekonomi lebih tepat menggunakan istilah pariwisata syariah jika aktivitasnya adalah perjalanan Muslim, bersamaan dengan perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia.

Pengembangan pariwisata halal penting karena manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh wisatawan Muslim. Pariwisata halal terbuka untuk semua orang. Kementerian Pariwisata akan menggerakkan pariwisata halal di hotel, restoran, spa, karaoke dan sebagainya. Wisata halal dapat diharapkan menjadikan Indonesia sebagai tujuan ramah bagi pelancong Muslim dan membutuhkan standarisasi.

Karakteristik pariwisata halal antara lain perjalanan di sana paket wisata yang mencakup tujuan perjalanan ramah-Muslim, serta hotel, restoran, spa halal, ia dan buat karyanya. Tujuan wisata halal juga untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri untuk mengunjungi berbagai tujuan dan tempat wisata yang memiliki nilai-nilai Islami, yang tersebar di seluruh Indonesia. Tujuan lain adalah untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan keuangan Islam di industri pariwisata yang semakin meningkat.

Penulis: Ricka Annisa

  • 24 May 2019

  • 0 Comments

  • Artikel

#SEFLearn

Sharing Ilmu Ekonomi Syariah SEF UG

"Fintech, Dirangkul atau Dipukul?"
 

 Perkembangan financial technology (Fintechsyariah diawali dari masuknya teknologi dalam dunia perbankan. Namun perbankan tidak mampu mengejar kemajuan teknologi akhirnya mengakibatkan munculnya sebuah inovasi baru yaitu fintech.

Dengan banyaknya ide mengadopsi ajaran islam dalam teknologi keuangan, berdasarkan data Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI), tercatat jumlah fintech ditahun 2018 sebanyak 41 perusahaan fintech Syariah dan diprediksi kedepannya akan terus bertambah karna cepatnya revolusi industry bahkan sudah sampai ke Era industry 4.0.

Kemunculan startup fintech syariah hadir sebagai solusi atas ketidakmampuan perbankan syariah memfasilitasi nasabah yang terintegrasi secara online.

Menurut Profesor Volker Nienhaus dilansir dari National Law Review Nienhaus memprediksi bahwa consumer banking syariah bisa terganggu dimasa depan karna banyaknya Platform fintech yang kaya akan syariah-compliant ditambah lagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan regulasi Fintech yaitu Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Artinya fintech dapat mempertemukan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman dalam rangka melakukan perjanjian pinjam meminjam dalam mata uang rupiah secara langsung melalui sistem elektronik secara online. Bahkan kerangka produk fintech sudah meluas ke ranah “Layanan Jual Beli/Kemitraan/Pembiayaan/Sewa Menyewa Syariah” Berbasis Teknologi Informasi.

Dengan begitu banyak Platform fintech Syariah ini dapat menggunakan berbagai akad yang biasa digunakan pada produk perbankan sebagai contoh akad murabahah yang dapat menjual barang halal dan menyetujui kedua belah pihak sehingga syariah compliance dapat diterima, selain itu fintech pun mengunakan akad Mudharabah dalam hal pendanaan dengan skema Investor (Shahibul Maal) menyetujui dan memberikan investasi modal pembiayaan Mudharabah kepada Pengelola (Mudharib) dengan menerapkan nisbah bagi hasil yang sudah disetujui.

Pada saat Investor menyepakati pemberian modal maka dana ditransfer melalui rekening titipan/escrow/virtual account, dan investor mengakuinya sebagai dana investasi Mudharabah, tentu Secara akad suatu Fintech tidak akan bertentangan dengan syariah sepanjang mengikuti prinsip prinsip syariahnya suatu akad, sebagai contoh Investree yang dapat menggandeng UKM (usaha kecil dan menengah) dalam hal pendanaan, Kapital Boost menggunakan akad Murabahah untuk jual beli produk, dan SyarQ yang merupakan salah satu platform cicilan tanpa kartu kredit yang termasuk fintech syariah dan siap berkompetisi dengan fintech lainnya pun dengan perbankan Syariah.

Berdasarkan data BPS, Indonesia merupakan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dengan populasi saat ini yaitu mencapai 262 juta orang dan berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat lebih dari 50 % atau sekitar 143 juta orang telah terhubung jaringan internet sepanjang 2017 dan menurut e-Marketer setidaknya satu kali setiap bulan itu mendudukkan Indonesia di peringkat ke-6 terbesar di dunia dalam hal jumlah pengguna internet tentu ini merupakan peluang yang besar dalam mengembangkan fintech tetapi berdasarkan data OJK market share perbankan syariah indonesia 2018 yaitu sebesar 5,89% tentu dengan adanya kehadiran fintech menjadi sebuah dilematis kedepanya karna pangsa pasar serta produk perbankan telah diambil alih oleh fintech, bisa jadi untuk kedepanya pangsa pasar pebangkan akan sulit menembus market share lebih jauh lagi jadi, seharusnya bagaimanakah dengan adanya fintech ini? Apakah harus dirangkul atau dipukul?

Kendati demikian menurut penulis bukan permasalahan fintech dan perbankan yang harus menjadi daya saing antar keduanya, tetapi peran keduanya tentu memiliki dampak yang baik untuk perkembangan arah ekonomi islam itu sendiri.

Jadi kehilangan pangsa pasar seharusnya bukan jadi sebuah ketakutan di negara yang menjadi salah satu jumlah muslim terbesar di dunia ini, tetapi bagaimana caranya kita dapat memanfaatkan potensi besar jumlah umat muslim pada negeri ini.

Akibatnya dengan adanya fintech Syariah dan perbankan tentu dapat bersama–sama memajukan dan mempercepat inklusi keuangan di Indonesia serta perbankan dapat senantiasa maju dan pun agar tidak tertinggal dari sisi perbankan sudah seharusnya semakin berinovasi dan cermat dalam menggunakan teknologi, serta dari sisi fintech sudah seharusnya memperbaiki dari sisi legalitas, tata kelola, pengauditan serta taat kepada pengawasan Syariahnya agar masyarakat semakin yakin dan melirik untuk menggunakan fintech Syariah ini.

Penulis: Rahmat Ramdani

  • 10 May 2019

  • 0 Comments

  • Artikel

Aktivitas bisnis merupakan aktivitas yang sangat dinamis dalam sejarah kehidupan umat manusia. Dimana seseorang dapat melakukan aktivitas bisnis yang tidak pernah sama dalam tiap waktu termasuk dalam alat transaksinya. Proses aktivitas bisnis yang terus berkembang tidak lagi mempertemukan para pelaku bisnis yang dalam hal ini penjual dan pembeli dipertemukan atau harus bertemu dalam dalam satu tempat dan satu waktu sebagaimana terjadi pada aktivitas bisnis konvensional. Sebab, kini masyarakat dihadirkan dengan bentuk bisnis dan transaksi baru yakni transaksi bisnis online. Hadirnya, bisnis online ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan internet yang dalam konteks yang lebih luas perkembangan teknologi dan informasi. Pengguna internet Indonesia sudah mencapai 63 juta orang, dari para pengguna tersebut terdapat 95% menggunakan internet untuk kebutuhan media sosial, bahkan Indonesia menjadi peringkat ke-4 Facebook dengan 65 juta pengguna aktif, peringkat ke-5 Twitter dengan 19,5 juta pengguna aktif, Google+ dengan 3,4 juta pengguna, Linkedlin 1 juta pengguna, aplikasi Path 700.000, Line 10 juta pengguna dan sebagainya. (Kominfo.go.id, 2 Juli 2016). Perkembangan dunia bisnis selalu menemukan muara untuk mencari bentuk, cara, pasar, dan konsumennya sendiri. Dalam konteks bisnis berbasis layanan online yang memberikan keuntungan dan kemudahan, juga menimbulkan dampak dan gejolak dengan pengelola bisnis konvensional (non-online), seperti terlihat pada kasus Uber, Grab dan bisnis transportasi (taksi) berbasis layanan online lainnya yang mendapatkan protes dan aksi demontrasi dari pengelola taksi konvensional. Bentuk protes tersebut lahir dikarenakan semakin berkurangnya peminat taksi kovensional yang beralih kepada taksi berbasis layanan online, sehingga berakibat berkurangnya penghasilan para pengelola taksi konvensional.

Adanya perkembangan bisnis dan berbagai bentuknya harus disikapi dengan bijak, terus melakukan inovasi, mengasah kreativitas, dan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki. Oleh sebab itu, hadirnya sudut pandang spiritualistik dalam praktik bisnis akan memberikan memberikan jalan petunjuk bahwa bisnis yang dilakukan semata-mata tidak saja mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, tetapi harus dipandang sebagai proses ibadah dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Upaya dalam menghadirkan sikap spiritualitas dalam praktik bisnis dan ekonomi dalam ajaran Islam dikenal dengan upaya terciptanya falah. Istilah falah berasal dari kata afalaha-yuflihu yang mengandung arti kesuksesan, kemuliaan dan kemenangan. Maksud dari kemuliaan dalam konteks ini adalah kemuliaan multidimensi dengan menjalankan aktvitas ekonomi tidak mengorientasikan diri pada pencapaian materi belaka, melainkan juga pencapaian akan kemaslahatan yang bersifat sosial atau biasa disebut dengan istilah al-maslahah al-mursalah. Secara terminology, salah satu‘ulama Ushul Fiqh, At-Thufy, Definisi maslahah menurut ‘Urf  (pemahaman secara umum) adalah sebab yang membawa kebaikan, seperti bisnis yang dapat membawa orang memperoleh keuntungan. Sedang menurut pandangan hukum Islam adalah sebab yang dapat mengantarkan kepada tercapainya tujuan hukum Islam, baik dalam bentuk ibadah maupun mu’amalah. Intinya ialah sesuatu yang menurut pertimbangan akal atau adat kebiasaan dapat mendatangkan kebaikan, manfa’at maupun faedah yang nyata bagi kehidupan manusia serta selaras dengan tujuan hukum yang ditetapkan oleh Syari’.

Melalui pernyataan diatas, aktivitas bisnis dan sosial seorang muslim menjadi benang merah untuk terjadinya keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Maka, secara praksis dalam praktik bisnis islami, beberapa kalangan mendorong adanya konsep dan praktik Socioprenenur. Keberadaan sociopreneur ini semacam menjadi evolusi dari praktik entrepreneur yang memungkinkan para pebisnis  mampu menghadirkan praktik produksi, distribusi, konsumsi, etika bisnis yang mengedepankan nilai moral dan sosial sesuai dengan ajaran Islam, sehingga praktik bisnis yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada pencapaian profit, melainkan mendorong produktifitas dan kualitas yang berfokus pada kemaslahatan sosial.

Pada umumnya, masyarakat berpikir bahwa profesi hanyalah sebatas karyawan, pengusaha, guru, direktur dan sebagainya, padahal terdapat pekerjaan yang didalamnya mengalir deras manfaat yang dapat dirasakan oleh tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk masyarakat sekeliling kita, yakni socioprenenur. Sebagai mahasiswa, rasa gerah dan iba akan permasalahan ekonomi dan sosial sudah sepantasnya dijadikan lecutan untuk berpikir dan berkontribusi. Langkah kongkret untuk menjadi seorang mahasiswa ber-sociopreneur dapat dilakukan dengan bergabung dengan suatu komunitas yang didalamnya memiliki visi dan misi yang sama, yakni mengedepankan sosial dan ekonomi masyarakat atau economic  and social walfare, dimana komunitas tersebut melakukan jual beli makanan khas daerah perguruan tinggi setempat lalu keuntungannya dialokasikan untuk insentif pendidikan desa setempat berupa pemberian buku dan seragam sekolah bagi anak-anak yang berada dibawah garis kemiskinan. Komunitas tersebut juga dapat menggandeng kepala desa setempat dalam hal kerjasama produksi dan distribusi produk karena pada dasarnya kepala desa memiliki Asosiasi Kepala Desa (AKDES) yang apabila kerjasama tersebut terjalin dengan baik persentase keuntungan yang didapat oleh komunitas tersebut akan meningkat yang berujung pada terciptanya tujuan sedari awal, yakni economic and social walfare. Tak kalah penting, pembinaan serta pemberdayaaan juga menjadi point penting ketika berbicara mengenai sociopreneur sebab hal tersebut akan terasa manfaatnya ketika masyarakat berekonomi kurang dapat disetarakan dalam memperoleh hak dalam berkerja dan berkarya dengan optimal. Selain itu, berkaca pada potensi bisnis online yang telah tercantum pada paragraf pertama bahwa komunitas berbasis mahasiswa ini dapat menjadi pioneer bagi tumbuhkembangnya e-commerce oleh kalangan sociopreneur.

Lailatul Munawaroh

SEKRETARIS KSEI SEF GUNADARMA

  • 23 Nov 2018

  • 0 Comments

  • Artikel

#SEFLearn

Sharing Ilmu Ekonomi Syariah SEF UG

"Diantara Reksadana, Saham Atau Emas Yang Manakah Yang Cocok Untuk Anak Muda?"

Setiap orang pasti memiliki cita-cita kehidupan mapan dan nyaman di masa depan. Tapi, hidup seperti itu perlu dicapai dengan berbagai persiapan, terutama yang berkaitan dengan pengaturan keuangan. Salah satu caranya adalah dengan berinvestasi sejak usia muda.

Sama seperti menabung, investasi atau menanamkan modal pada aset-aset tertentu perlu dilakukan sejak dini. Tidak perlu menunggu  berpenghasilan yang cukup besar dan berusia matang baru memulai berinvestasi.Hal ini dapat terlihat saat ini dimana saat ini telah banyak anak muda yang sudah tidak asing dengan investasi.

Sejak mereka telah memiliki penghasilan, anak muda zaman saat ini telah memulai persiapkan kebutuhan masa depan seperti keinginan memiliki rumah , keinginan memiliki kendaraan, kebutuhan dana pernikahan,traveling dan shopping. Oleh karena itu, wajar kalau kalangan usia ini perlu mulai mengatur keuangannya dan mulai berinvestasi dengan menyisihkan dana untuk investasi sejak masih muda meskipun penghasilan yang rekan-rekan terima saat ini belum terlalu besar.

Mengapa perlu berinvestasi sejak dini ? dengan memulai menginvestasikan penghasilan sejak dini maka rekan-rekan memiliki peluang dimana dana rekan-rekan yang telah di investasikan akan tumbuh pesat sehingga dapat mengalahkan inflasi dalam jangka panjang.
Selain itu karena dengan kita memulai berinvestasi sejak usia muda, rekan-rekan memiliki kelebihan dimana rekan-rekan masih memiliki banyak waktu untuk mengumpulkan uang dan mengembangkan dana investasi tersebut menjadi lebih besar dengan ditempatkan kedalam instrumen-instrumen investasi saat ini yang telah tersedia baik itu dalam bentuk reksadana, saham, ataupun emas.

Namun, ada kalanya anak muda galau disaat akan memutuskan hendak berinvestasi di reksadana,saham atau emas dikarenakan tidak memiliki rekomendasi yang cukup untuk menjelaskan hal tersbeut dan pada akhirnya karena kelamaan galau, tidak jadi berinvestasi. Sehingga penghasilan yang seharusnya sudah mulai disisihkan untuk kebutuhan hari depan, akhirnya habis tak berbekas sekadar untuk konsumsi semata.

Penulis: Arief Tri Setiaji

Sumber: http://akucintakeuangansyariah.com

  • 14 Jun 2018

  • 0 Comments

  • Artikel

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Kami Keluarga Besar Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma mengucapkan;
"Taqabbalallahu Minna Wa Minkum, Shiyamana Wa Shiyamakum"

Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 SYAWAL 1439 H

Semoga Allah Menerima Semua Amal, Ibadah, dan Doa kita selama bulan Ramadan dan Semoga Allah Mengampuni Dosa Kita Semua.

Aamiin Allahumma Aamiin