Publikasi

  • 9 Dec 2019

  • 0 Comments

  • Aktualisasi Ekonomi Syariah

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada hari Sabtu, 30 November 2019 menyelenggarakan 2 Seminar Nasional dengan tema Changing Paradigms and Practices through Islamic Economic Worldview dan Islamic Economic Instrument: The Right Way to Improve the Prosperous of Humanity dari pukul 08.30-16.00 WIB di Auditorium J612 Universitas Gunadarma, Cikunir.

Seminar Nasional merupakan rangkaian kegiatan dari Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR) yang dilaksanakan setahun sekali di Kampus Gunadarma Kalimalang.  Pada sesi pertama acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Ahmad Maulana, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Gafar Ali Haji (Arab), Wafa Luthfiya Azzahra (Inggris), Fitri Wulandari (Jerman) dan Abdurrahman Wahid (Indonesia).

Sambutan pertama dan pembukaan disampaikan oleh Rezaldi Dwinanta Tama  selaku Ketua Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR) 2019/2020. Seminar Nasional 1 dipandu oleh seorang moderator yaitu Bapak Aulia Nugraha, Lc., M.E. selaku Dosen Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Selanjutnya masuk kepada sesi pemateri yang disampaikan oleh para pembicara yang ahli dibidang Ekonomi Syariah. Pembicara pertama ialah Bapak Dr. Anwar Abbas, M.Ag. selaku Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa pada saat ini sistem ekonomi di Indonesia tidak hanya sistem ekonomi sosialisme saja tetapi pada praktiknya sistem ekonomi di Indonesia menerapkan sistem ekonomi liberal dan kapitalisme. Dimana sistem kapitalisme ini membuat orang kaya semakin kaya dan sistem ekonomi ini lebih mengedepakan manusia sebagai individu dan kebebasan pasar. Dari kebebasan pasar ini justru menjadi tempat pertarungan antara individu dan pelaku pasar. Sistem kapitalisme memberikan kebebasan kepada individu untuk memperoleh kekayaan, memilih sektor usaha yang diinginkan dan memilih pekerjaan, dari sini dapat dilihat bahwa individu terdorong untuk kreatif dan inisiatif sehingga terjadinya persaingan yang membuat efektifitas dan efisiensi tinggi. Namun sistem ekonomi kapitalisme ini tidak manusiawi karena tidak membawa Tuhan ke dalam kehidupan ekonomi. Sehingga manusia mencari untung sebesar-besarnya bagi diri dan perusahaan. Sistem ekonomi ini juga semakin parah karena mereka sangat menjunjung tinggi pasar bebas yaitu suatu pasar yang tidak boleh diintervensi oleh pemerintah. Beliau menyampaikan bahwa sistem ekonomi islam merupakan sistem ekonomi yang paling terbaik untuk diterapkan. Sistem ekonomi islam disuruh untuk mencari rezeki tanpa melupakan Tuhan (QS. Al-Jumuah: 10) dan didalam mencari rezeki kita disuruh untuk  fastabiqul khairat (QS. Al-Baqarah: 148). Jika kita mendapatkan rezeki maka wajib mengeluarkan zakat untuk membantu delapan asnaf yang termasuk di dalamnya fakir dan miskin.

Setelah itu masuklah kita pada pembicara kedua yaitu Bapak Dr. Ali Sakti, M.Ec. selaku Analis Senior Bank Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa ekonomi global pada saat ini sudah pada periode kekacauan yang dimulai sejak tahun 1910-1944. Dimensi kekacauan bukan hanya di bidang ekonomi saja tetapi juga dibidang data sosial. Menurut data PMKS angka orang meninggal dunia karena kemiskinan jauh lebih banyak dari pada orang yang berperang. Ini adalah salah satu bukti bahwa gagalnya ekonomi yang ada pada saat ini, sehingga kita haruslah sadar bahwa ekonomi islam solusinya. Ekonomi islam pada saat ini akan mempengaruhi tingkat kepedulian terhadap orang lain. Tujuan ekonomi islam yaitu untuk mempertahankan keimanan seseorang. Selain itu tujuan utama ekonomi islam yaitu untuk mencapai jannah (surga). Didalam ekonomi islam terdapat Filosofi Dasar yang meliputi akidah, akhlak, syariah dan adab.

Pembicara ketiga ialah Bapak Harza Sandityo, S.H. selaku COO & Co-Founder of PT Alami Fintek Sharia. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia dengan mayoritas Muslim ini sangatlah berpotensi untuk mengembangkan financial techonology. Selain itu juga banyak faktor pendukung kemajuan fintech ini untuk dikembangan di Indonesia seperti kuat dan stabilnya GDP di Indonesia, jumlah penduduk muslim terbanyak, dukungan gerakan hijrah dan lembaga syariah lainnya. Hubungan antara  financial technology dengan ekonomi syariah yaitu dengan teknologi yang ada pada saat ini maka ini adalah peluang besar bagi ekonomi syariah untuk membumikan ekonomi islam lebih luas lagi. Karena perkembangan teknologi ini bisa dijangkau dimana saja dan kapan saja.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 2 sesi dimana sesi 1 terdapat 2 penanya dan sesi 2 terdapat 2 penanya. Dan bagi 2 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama Ketua SEF dan Ketua Pelaksana.

Selanjutnya, Seminar Nasional 2 dimulai pada pukul 12.30-16.00 WIB. Pada sesi kedua acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Dian Ayu Safitri, dilanjutkan dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Abdurrafi Rasyid Ridho (Arab), Agiv Shafira Nuralya (Inggris), Muhammad Fajri (Jerman) dan Tri Utami (Indonesia).

Sambutan pertama disampaikan oleh Zaki Ilhaam Muhammad selaku Ketua Sharia Economic Forum 2019/2020. Seminar Nasional 2 dipandu oleh seorang moderator yaitu Ibu Siti Rahayu, S,E., M.M. selaku Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma.

Pembicara pertama ialah Bapak Sigit Pramono, Ph.D., C.A., C.P.A. selaku Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Islam SEBI, Depok. Beliau menyampaikan terkait upaya untuk mengentaskan permasalahan ekonomi dengan mengoptimalkan potensi instrumen filantropi islam seperti  zakat dan wakaf. Beberapa upaya yang beliau paparkan dapat dilakukan diantaranya; sosialisasi dan edukasi publik terkait islamic social funds, reaktualisasi regulasi model kelembagaan, meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia dalamm pengelolaan islamic social funds serta membangun secara kokoh ekosistem zakat dan wakaf yang kondusif untuk optimalisasi peran islamic social funds dengan prinsip good governance dan best practices yang efisien dan efektif.

Selanjutnya pembicara kedua disampaikan oleh Bapak Jaja Zakasyi, M.A. selaku Representatif Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI. Beliau menyampaikan bahwa perlunya sosialisasi literasi wakaf di semua elemen masyarakat dengan harapan generasi milenial dan penyuluh agama sudah familiar mengenai materi zakat dan wakaf sehingga bisa lebih mensosialisasikan kepada seluruh kalangan serta dapat meningkatkan pertumbuhan pengumpulan zakat dan wakaf. Selanjutnya, pembinaan kepada  nazhir wakaf (Forum Wakaf Produktif) & LKSPWU yang harapannya tercipta para nazhir wakaf yang profesional, kompeten dan memiliki forum bersama guna meningkatkan pertumbuhan harta benda wakaf dan bisa di manfaatkan bagi mauquf alaih. Terakhir, pengamanan mutasi harta benda wakaf, outputnya adalah memberikan perlindungan harta benda wakaf agar tidak terjadi sengketa dari ahli waris wakif maupun masyarakat.

Pembicara ketiga disampaikan oleh Bapak Dr. Imam Teguh Saptono, M.M. selaku Ketua Global Wakaf Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa terkait peran ZISWAF sebagai pilar ekonomi untuk kejayaan peradaban islam. Islam Rahmatan Lil Alamin, Islam adalah agama yang dirahmati seluruh alam. Melalui ZISWAF sebagai solusi, perekonomian yang rusak saat ini dapat teratasi. Zakat adalah wajib, jumlah dan waktunya ditentukan, serta penerimanya sudah diterangkan dalam Al-Qur’an (8 asnaf) yang lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan Dhururiyah. Infaq dan sodaqoh lebih fleksibel baik dalam waktu, penerima dan dalam jumlah (meskipun terbatas) tetapi masih di koridor dhururiyah dan hajiyyat. Sedangkan wakaf bersifat berkelanjutan, berorientasi jangka panjang dan menyempurnakan (tahsiniyyat) dengan jumlahnya yang signifikan.

Setelah para pemateri menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 1 sesi dimana terdapat 3 penanya. Bagi 2 orang penanya terbaik akan diberikan hadiah. Acara terakhir yaitu pemberian plakat kepada moderator dan pembicara disertai dengan foto bersama.

Acara seminar ini disambut oleh antusias yang luar biasa dari Mahasiswa Gunadarma serta dukungan dari para penggiat Ekonomi islam. Seminar Nasional ini didukung dan disponsori oleh BEM Fakultas Ekonomi (BEM FE) Universitas Gunadarma, Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI), Masyarakat Ekonom Syariah (MES), Ikatan Ahli Ekonomi islam (IAEI), iB, Bank DKI Syariah, BAZNAS, ZIS Indosat, Mandiri Amal Insani dan Dompet Dhuafa.

Laporan: Agiv Shafira Nuralya dan Nadya Salsabila Haqoni

Editor: Putri Yunela Sari

 

  • 3 Dec 2019

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Perekonomian segera membahas biaya sertifikasi produk halal pada akhir pekan depan. Penentuan biaya yang dibebankan dalam pengurusan sertifikasi itu menjadi salah satu prioritas Kemenko Perekonomian di akhir tahun 2019. 

Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono, menuturkan, Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto telah memberikan arahan kepada jajarannya untuk segera menyelesaikan ketentuan biaya sertifikasi halal. Sebab, masalah biaya harus diatur secara legal sebagai aturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. 

"Sudah kami jadwalkan akhir pekan depan ini. Kami sedang menyiapkan waktunya," kata Susiwijono saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (1/12). 

Selain mengejar pembahasan biaya sertifikasi halal, Kemenko Perekonomian juga tengah mengejar waktu untuk menyelesaikan rapat koordinasi penyelesaian omnibus law cipta lapangan kerja dan sinkronisasi omnibus law perpajakan. Sertifikasi halal, dijelaskan dia, menjadi salah satu pokok bahasan omnibus law cipta lapangan kerja. Adapun soal teknis biaya sertifikasi telah dibahas langsung oleh Kementerian Keuangan dan Kementerian Agama sebagai kementerian teknis. 

Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kemenko Perekonomian, Bambang Adi Winarso, menambahkan, rancangan tarif tengah disiapkan oleh Kementerian Keuangan. Pihaknya, hingga kini belum menerima rancangan tarif tersebut. Kemenkeu terlibat lantaran biaya sertifikasi halal nantinya bakal dituangkan dalam bentuk Peraturan Menteri Keuangan (PMK). 

"Tapi, secara prinsip (biaya) untuk usaha kelas mikro dan kecil digratiskan," kata Bambang. 

Sumber: Republika.co.id

  • 25 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) KH Ma'ruf Amin menyatakan, dana sosial syariah mampu memberdayakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Oleh karena itu, lini ini menjadi bagian ekonomiyang akan pemerintah dorong.

“Dana sosial Islam berupa wakaf dan zakat merupakan dana murah. Kalau itu didayagunakan untuk menumbuhkan UMKM, berarti tidak butuh biaya besar. Pada akhirnya, jika UMKM tumbuh, keuangan syariah komersial bisa masuk, baik instrumen perbankan syariah ataupun pasar modal.” Ujar Kiai Ma’ruf

Sebenarnya, proses menumbuhkembangkan UMKM sudah dimulai dengan adanya bank wakaf mikro di pesantren-pesantren. "Tapi kan dananya masih terbatas. Kita ingin dana wakaf ini menjadi besar sehingga lebih banyak lagi UMKM yang kita bisa dorong," ungkap Kiai Ma'ruf saat berbincang dengan Republika di Kantor Wapres, Jakarta, belum lama ini. Yang dibiayai oleh bank wakaf mikro pun tidak diberi beban karena pembiayaan dalam jumlah sangat kecil agar pelaku UMKM dapat bertahan.

Keuangan sosial merupakan salah satu dari empat bagian ekonomi syariah yang akan pemerintah dorong. Pemerintah melihat dana sosial, terutama wakaf dan zakat sangat penting dalam membangun kekuatan umat. "Zakat kita itu kan baru Rp 8 triliun atau 3,5 persen dari potensinya Rp 230 triliun per tahun. Karena itu, kita dorong ini menjadi kekuatan," kata Kiai Ma'ruf.

Melalui program Bank Wakaf Mikro (BWM), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupaya memperluas lembaga keuangan mikro syariah tersebut di berbagai daerah untuk mendorong peningkatan usaha ekonomi mikro rakyat. OJK pun telah meresmikan dua BWM. Salah satunya yaitu BWM Al Hijrah Cindai Alus Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang diresmikan awal November ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan, keberadaan BWM telah mendorong usaha ekonomi mikro rakyat. Selama ini, mereka kesulitan mendapatkan permodalan yang murah dan mudah guna membiayai usahanya."Keberadaan BWM sudah dirasakan masyarakat kecil yang memanfaatkan pembiayaan. Mereka bisa mendapatkan tambahan modal usaha dan memperluas usahanya sehingga pendapatannya meningkat," ujar Wimboh.

Keberadaan BWM di lingkungan pondok pesantren diharapkan bisa mendukung perekonomian masyarakat desa yang sebagian besar berusaha di sektor pertanian, perdagangan dan pelaku industri kecil rumah tangga. Skema pembiayaan BWM adalah pembiayaan tanpa bunga dengan maksimal plafon pinjaman Rp 3 Juta dan hanya dikenakan biaya administrasi sekitar 3 persen per tahun.
"Dokumen persyaratan yang dibutuhkan hanya kartu tanda penduduk atau kartu keluarga," ucap Wimboh.

Selain mendapatkan pembiayaan untuk modal kerja, nasabah BWM juga akan mendapatkan pendampingan dan pemberdayaan yang bermanfaat untuk meningkatkan usahanya. Hingga Oktober 2019, terdapat 54 unit BWM di Indonesia. Total nilai pembiayaan yang telah disalurkan BWM sebesar Rp 29,33 miliar kepada 22.668 nasabah di seluruh Indonesia dan telah tersebar di 16 provinsi.

Menteri Agraria dan Tata Ruang (Menteri ATR) Sofyan Djalil mengusulkan agar wakaf ke depan bisa dikelola menjadi wakaf produktif untuk kepentingan umat. Selama ini, ikrar wakaf sering kali spesifik, misalkan untuk mushala dan masjid. Padahal, letak masjid saat ini belum tentu cocok hingga 15 tahun mendatang.

Sofyan juga menjelaskan, untuk pewakaf (wakif) atau pemberi wakaf, yang terpenting adalah semangat dari wakafnya. Aset produktif bisa menjadi lebih baik untuk dimanfaatkan oleh banyak pihak. "Misalnya entrepreneur Muslim tidak ada modal, kenapa tidak kita kasih modal wakaf saja?" ujar Sofyan.

Kementerian ATR juga akan mempermudah sertifikasi tanah wakaf agar seluruh tanah wakaf bisa tersertifikasi. Ini seiring target pemerintah untuk memastikan semua tanah terdata pada 2025. Sofyan juga akan mendorong dan memberikan kemudahan dalam berwakaf . Untuk mempermudah proses sertifikasi tanah wakaf, pemerintah hanya perlu menunjukkan saksi dan nazir yang direkomendasikan Badan Wakaf Indonesia (BWI). Jika tanah wakaf tersebut tidak memiliki nazir, pemerintah akan mengupayakan nazir sementara agar aset-aset umat tidak tercecer.

Data wakaf yang tidak rapi akan menurunkan kemanfaatannya untuk umat. Sofyan juga meminta regulator wakaf untuk menafsirkan kembali arti wakaf dan mengeluarkan fatwa untuk lebih mendorong kemajuan ekonomi umat dan keberpihakan kepada masyarakat. Sebelumnya, BWI mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui wakaf produktif. Contoh wakaf produktif itu antara lain mewakafkan tanah untuk kegiatan pertanian, mewakafkan toko untuk kegiatan perdagangan, dan sebagainya.

BWI juga melakukan inovasi instrumen wakaf, antara lain wakaf tunai terkait sukuk atau cash waqf linked sukuk yang diluncurkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam pertemuan tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional di Bali, tahun lalu. BWI juga memfasilitasi wakaf saham sebagai alternatif berwakaf menggunakan aset berupa surat berharga.

Sumber: Republika.co.id

 

  • 23 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Aktualisasi Ekonomi Syariah

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat! Anda telah terdaftar sebagai peserta SEMINAR NASIONAL KALIMALANG 2019. Demi kepentingan validasi nama peserta pada sertifikat silahkan periksa kembali nama Anda pada daftar peserta Seminar Nasional Kalimalang 2019.

Konfirmasi perubahan nama dapat dilakukan hingga Rabu, 27 November 2019 pukul 23.59 WIB. Apabila peserta tidak melakukan perubahan nama sampai batas waktu yang ditentukan, maka nama peserta dianggap sudah benar dan panitia tidak bertanggung jawab atas kesalahan cetak nama pada sertifikat.

Daftar nama peserta dapat di lihat pada/uploads/ckeditor/attachments/80/VALIDASI_NAMA.pdf

Demikian yang dapat kami sampaikan
untuk perubahan nama anda dapat klik (di sini) atau http://sef.or.id/pesertasemnas2019

-Panitia Seminar Nasional Kalimalang 2019-

Wasalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  • 22 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Depok - Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada Sabtu, 16 November 2019 telah menyelenggarakan salah satu acara dari rangkaian Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR)  yakni SEF Super Mentor dengan tema “Let’s Get the Insight and Unleash the Potential Within You!” acara ini dimulai dari pukul 08.00 s.d. 12.00 WIB di Auditorium D462, Universitas Gunadarma.

Aktualisasi Ekonomi Syariah (AKSYAR) merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma. SEF Super Mentor adalah salah satu rangkaian kegiatan rutin tahunan AKSYAR dalam rangka memfasilitasi generasi muda penerus bangsa agar memiliki kemampuan berpikir kreatif dan inovatif untuk masa depan lebih baik, selain itu acara ini merupakan ajang pengenalan kepengurusan SEF satu periode.

Acara diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh saudari Ricka Annisa, dilanjutkan dengan pembacaan Tilawah oleh saudara Gafar Ali dan teman-teman. Kemudian, sambutan pertama disampaikan oleh saudara Zaki Ilhaam Muhammad selaku Ketua Sharia Economic Forum (SEF) 2019/2020. Dilanjutkan oleh sambutan kedua yang disampaikan oleh Bapak Dr. Riskayanto, Ir., M.M. selaku Kepala Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Beliau menyampaikan bahwa sangat penting khususnya para pemuda untuk menggali potensi diri dan dalam hal pengembangan diri karena merupakan salah satu bentuk upaya untuk meraih kehidupan layak dan sukses di masa yang akan datang.

Setelah itu, masuklah pada acara inti. Pertama adalah pemaparan materi dari para pembicara yang dipandu oleh Moderator yakni saudara Rahmat Ramdani, yang merupakan Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Gunadarma tahun 2019, beliau juga merupakan Alumni dari Sharia Economic Forum.

Pembicara pertama yaitu saudari Fitra Amelia, beliau menyampaikan bahwa dalam proses pembelajaran tidak ada belajar yang nyaman, justru jadikan ketidaknyamanan tersebut sebagai pelajaran untuk kita. Seseorang dengan growth mindset selalu menjadikan setiap kesempatan sebagai peluang dan memikirkan proses karena hidup bukan tentang hasil, tetapi tentang bagaimana prosesnya. Beliau memberikan kiat-kiat bagaimana agar kita dapat berpikir besar, yang pertama adalah percaya bahwa kita bisa sukses. Kedua yaitu sembuhkan diri dari banyak mencari alasan dalam menghadapi sesuatu. Ketiga adalah jangan berpikir kecil mengenai diri sendiri. Keempat adalah membuat lingkungan yang dapat bekerja sama dengan kita, bukan memusuhi kita. Kelima adalah selalu berbuat baik pada setiap orang. Terakhir adalah gunakan goals untuk membantu dalam bertumbuh. Tak lupa beliau mengingatkan untuk selalu menanamkan mindset Keep learning, keep growing and stay humble.

Pembicara kedua yaitu saudara Ricky Dwi Apriyono, beliau menyampaikan perihal kontribusi hidup untuk umat, melihat dan memikirkan serta bertindak untuk orang-orang yang membutuhkan peran kita sebagai pemuda hebat. Beliau memberikan nasihat bagaimana cara membangun passion diri, yaitu dimulai dengan mencari kelompok yang sesuai dengan passion diri. Tahap kedua adalah menentukan pilihan selanjutnya yaitu ingin bekerja atau melanjutkan pendidikan. Tahap ketiga adalah menikah. Tahap keempat yaitu selama kita hidup teruslah memberikan kontribusi untuk ummat. Ketika meniti karir, ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam dunia kerja, yaitu integritas dan professional, hal ini merupakan poin penting. Apa yang kita pikirkan dan yang kita lakukan atau katakan haruslah sesuai. Kita juga tidak boleh menganggap hal-hal kecil sebagai hal yang tidak penting. Lalu sinergi, pelayanan dan kesempurnaan dimana semua pekerjaan yang diberikan harus dikerjakan dengan benar dan tuntas.

Pembicara ketiga yaitu saudara Qodhyan Fatahillah, beliau menyampaikan bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik. Tetapi manusia memiliki dua kepribadian, yang mana baik dan buruknya dipengaruhi oleh pemikiran dan lingkungan. Kita harus mengetahui kemana kita harus pergi. Karena mencari tujuan hidup adalah hal yang sia-sia, tujuan sejati kita adalah mencari jati diri atau mengenali diri sendiri. Beliau juga menyampaikan mengenai teori The Butterfly Effect. Teori ini lahir dari ahli matematika dari MIT yaitu Edward Lorenz, di dalam teori tersebut dijelaskan bahwa satu kepak kupu-kupu di Brazil dapat menyebabkan tornado di Texas, yang artinya suatu tindakan yang kecil bisa berdampak besar disuatu tempat. Bermimpi dan lakukanlah, perjalanan menuju mimpi itu tidak gratis dan tidak mudah. Karena untuk menjadi pelaut yang tangguh dibutuhkan samudera yang ganas. Percaya diri dan yakinlah bahwa semua mimpi akan tercapai.

Setelah para pembicara menyampaikan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Diberikan 1 sesi kesempatan bagi peserta untuk bertanya, selain itu sesi pertanyaan juga dibuka melalui pertanyaan dari followers instagram @KSEI_SEF dan 2 orang penanya diberikan hadiah. Selanjutnya yaitu pemberian plakat kepada moderator dan para pembicara disertai dengan foto bersama. Acara diakhiri dengan suatu persembahan dan penampilan istimewa dari Pengurus SEF serta pemutaran dan video pengenalan kepengurusan SEF periode 2019/2020.

Laporan: Dian Ayu Safitri

  • 20 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Social Project

         Kementerian Sosial Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma pada Ahad 27 Oktober 2019 telah melaksanakan salah satu program sosial terkait pendidikan yaitu Karnaval Ceria. Karnaval Ceria merupakan program penerimaan siswa-siswi baru untuk Madrasah Weekend (MW) yang dimulai dari tingkat Paud hingga Sekolah Dasar (SD).

Tujuan utama diadakannya Karnaval Ceria sendiri adalah mengajak anak-anak Kampung Gedong untuk bisa belajar kembali di Madrasah Weekend yang dilaksanakan setiap pagi Ahad dan akan dipandu oleh para pengajar dari internal Pengurus Sharia Economic Forum. Pada tahun ini, Karnaval Ceria mengangkat tema “Inspirasi Sejuta Mimpi Anak Kampung Gedong”. Harapannya setelah mengikuti Karnaval Ceria, anak-anak Kampung Gedong dapat termotivasi untuk menggapai mimpi-mimpi mereka sehingga mereka lebih bersemangat dalam belajar dan menimba ilmu.

Kegiatan tersebut dinilai sukses dan berhasil karena mampu menarik perhatian dan antusias anak-anak Kampung Gedong sehingga peserta yang hadir pada kegiatan tersebut berjumlah lebih dari 50 orang.

Rangkaian Karnaval Ceria ini  dimulai dari pukul 07.30-12.00 WIB. Tak hanya anak-anak, orang tua mereka juga turut hadir untuk mendampingi. Alhamdulillah berdasarkan pengakuan dari para orang tua, mereka menilai sangat terbantu dengan adanya MW ini karena dapat memberikan pengajaran tambahan yang tidak hanya di dapatkan di Sekolah Formal saja.

Acara dibuka dan dipandu oleh MC yaitu Kak Edwin Pija Yenra Purba dan Kak Dian Ayu Safitri. Kemudian dilanjutkan dengan senam pagi bersama. Lalu setelahnya, Sambutan disampaikan oleh Kak Erwin Faridah sebagai Kepala Sekolah Madrasah Weekend. Kak Erwin memberikan semangat dan motivasi untuk terus belajar dan menggapai cita-cita. “Madrasah Weekend adalah salah satu bentuk ikhtiar kami dalam mencerdaskan anak bangsa terkhusus anak-anak Kampung Gedong, dimana nanti mereka akan belajar dengan menggunakan silabus-silabus yang telah ditetapkan, selain itu akan ada waktu dimana anak-anak dapat menanyakan terkait Pekerjaan Rumah (PR) dan akan di bimbing oleh para pengajar” Ujar Kak Erwin

Selanjutnya, masuk ke acara inti berupa pengenalan profesi yang disampaikan oleh inspirator kepada anak-anak agar membuka wawasan dan cakrawala mereka bahwa profesi saat ini sudah sangat luas. Pengenalan profesi diantaranya Koki, Dokter, Tentara, Bussinesman dan Guru. Baru setelahnya, anak-anak diberikan kesempatan tampil didepan untuk menyampaikan cita-cita mereka.

 

Terakhir, setelah para inspirator memberikan motivasi, dilanjutkan dengan permainan dan perlombaan, diantaranya lomba estafet karet, estafet pulpen, memasukkan pulpen ke dalam botol dan balon air. Perlombaan dilakukan secara perkelompok. Dan dari perlombaan tersebut, maka pemenang diberikan hadiah serta semua anak-anak yang hadir juga diberikan bingkisan.

Agenda Karnaval Ceria ditutup kembali oleh MC dengan memberikan informasi kembali bahwa pada 03 November 2019 akan dimulai kegatan pembelajaran Madrasah Weekend. Acara ditutup dengan sesi foto bersama anak-anak dan Pengurus SEF.

Laporan: Erwin Faridah, Editor: Putri Yunela Sari

  • 19 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis menilai, ekonomi syariah Indonesia tak perlu fokus pada sektor keuangan semata. Menurutnya, ekonomi syariah harus menumbuhkan sektor riil dan memperlebar perdagangan.

Dia menilai, ketika ekonomi syariah hanya berfokus pada keuangan maka ekonomi syariah terkesan hanya pada sektor murobahah. Padahal, potensi sektor riil dan produksi dalam ekonomi syariah menuntut jaminan dalam produk-produk halal.

"Ekonomi syariah di Indonesia enggak bisa maju-maju kalau hanya fokus di (sektor) keuangan saja," kata Cholil.

Ekonomi syariah dalam perspektif Islam tak hanya dimaknai mengenai satu sektor saja. Dia menyebut sektor ekonomi syariah 90 persennya masih menggunakan sistem murobahah yang mana keuntungan tersebut dinilai pasti dan lebih prospektif.

Sedangkan dalam Islam, kata dia, ekonomi syariah secara kaffah harus menyentuh seluruh aspek dan harus bergerak progresif. Ekosistem keuangan syariah di Indonesia makin kuat dengan diluncurkannya Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) 2019-2024 oleh Presiden Joko Widodo tanggal 14 Mei 2019 lalu.

Peta jalan ini merekomendasikan empat langkah strategis dalam pengembangan ekonomi syariah yaitu penguatan rantai nilai halal, penguatan keuangan syariah, penguatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan penguatan ekonomi digital.

Sedangkan berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset perbankan syariah tercatat sebesar Rp 499,3 triliun atau 5,95 persen dari total pangsa pasar keuangan syariah. Adapun total zakat yang terhimpun pada 2018 berjumlah Rp 8,1 triliun atau setara dengan 559 juta dolar AS. Sedangkan potensi zakat diperkirakan menyentuh 16 miliar dolar AS merujuk catatan Baznas pada 2018.

Sumber: Republika.co.id

  • 9 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Berita Eksyar

[SEFNews]

Berita Ekonomi Syariah Edisi November

Bandung - Konferensi Internasional World Zakat Forum (WZF) 2019 yang dilaksanakan Selasa (5/11) hingga Kamis (7/11) di Bandung, Jawa Barat akan mengusung tema “Optimizing Global Zakat Role through Digital Technology”. Tema ini berangkat dari penerapan teknologi 4.0 yang kini dianggap sebagai keharusan dalam industri keuangan.

Tak terkecuali pengelolaan dana zakat sebagai sumber keuangan syariah untuk tercapainya tujuan kesejahteraan dunia, juga harus dapat beradaptasi dengan baik.

“ Acara WZF akan menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman zakat yang dapat melepaskan umat dari kemiskinan dan memperkuat ukhuwah” Ujar Prof Dr Bambang Sudibyo, Sekretaris Jendral WZ

Untuk itu, komitmen di antara negara-negara Muslim dalam bekerja sama dan berkolaborasi di gerakan zakat global sangat dibutuhkan.

“Penggunaan dana zakat harus memiliki makna strategis untuk menegakkan ukhuwah, persaudaraan, kolaborasi, dan solidaritas di antara negara-negara Muslim dan umat untuk mencapai tujuan bersama. Untuk mencapai tujuan bersama ini, gerakan zakat global membutuhkan platform untuk merumuskan solusi efektif untuk masalah multi-dimensi di dunia Islam,” katanya dalam keterangan tertulis.

Menurut Bambang yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), komitmen zakat global harus memberi perhatian tidak hanya bagaimana zakat dikumpulkan dan didistribusikan secara global, tetapi juga bagaimana zakat dikelola secara profesional, efektif, efisien dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang bergerak cepat.

Prof Dr Bambang  Sudibyo  mengatakan, Gerakan zakat global harus memperhatikan peran teknologi digital dalam pengelolaan zakat karena dunia Muslim sangat luas, dari Afrika hingga Asia Tenggara yang mencakup enam benua.

Sejalan dengan tema yang diusung dalam gelaran WZF, Baznas telah menerapkan platform media digital sebagai sarana yang memudahkan masyarakat untuk berzakat sejak 2016 silam. Ada lima platform yang dikembangkan Baznas untuk mendorong zakat digital. Pertama, Baznas Platform, yakni mengembangkan website Baznas dan playstore atau program aplikasi bernama 'Muzaki Corner'.

"Kedua, Commercial Platform, yakni mengembangkan kerja sama dengan toko online seperti Bukalapak, Tokopedia, Mataharimall.com, Kitabisa. Baznas juga bekerja sama dengan penyedia jasa keuangan digital finansial teknologi (Fintech) seperti Dana, Gopay, dan lainnya," katanya.

Ketiga, Social Media Platform, di mana Baznas mendorong iklan dan kampanye melalui sosial media untuk mengajak masyarajat berzakat, seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, dan sebagainya. Keempat, Innovative Platform, di mana Baznas mencoba bekerja sama dengan mesin-mesin penyedia pembayaran digital yang ada di minimarket.

"Lalu yang kelima, Artificial Intelligence Platform, di mana Baznas dalam berkampanye menggunakan data besar yang menyasar kepada muzaki dan calon muzaki. Platform ini didukung oleh kerja sama dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), kementerian sosial dan penyedia data lainnya," katanya.

Hasilnya, zakat digital di Baznas dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan tertinggi dibanding dengan pengumpulan zakat dengan cara konvensional. Grafik zakat digital di Baznas juga menunjukkan arah yang positif di mana selalu ada kenaikan angka dari tahun sebelumnya. Bahkan di tahun 2019 ini, hingga bulan Oktober dana yang telah terkumpul dari Muzakki telah terkumpul Rp35 miliar dari target yang ditetapkan sebanyak Rp38 miliar.

"Dengan demikian, Baznas sebagai salah satu lembaga pengelola zakat yang telah diakui di berbagai negara Muslim di dunia ikut mendorong di akhir konferensi ini dapat menghasilkan resolusi yang baik dalam mengoptimalkan Peran Zakat Global melalui Teknologi Digital," pungkasnya.

Sumber: Sharianews.com

  • 5 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Kuliah Umum

[UNDANGAN TERBUKA]

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam Pemuda! 

Sebagai pemuda kita wajib tahu dan sadar betapa pentingnya berkarya dan berkontribusi untuk menjadi generasi terbaik. Oleh sebab itu,  pemuda dituntut memiliki wawasan yang luas dan mengoptimalkan potensi diri untuk menghadapi tantangan global. 

Sudah siapkah kamu menyambut tantangan tersebut? Apa yang harus kita persiapkan?

SHARIA ECONOMIC FORUM (SEF) UNIVERSITAS GUNADARMA mempersembahkan,

✨ SEF SUPER MENTOR ✨
"Let's Get the Insight and Unleash the Potential Within You!"

SEF SUPER MENTOR merupakan acara rutin yang kami adakan dengan menghadirkan mentor terbaik SEF yang akan berbagi pengalaman dan inspirasi sekaligus memotivasi kita semua.

Siapa saja mereka?!

1. Rahmat Ramdani (Minister of Research and Achievement SEF 2018/2019)

2. Fitra Amelia (IB Middle Years Programme/Diploma Programme Teacher)

3. Ricky Dwi Apriyono (Staff of Management and Compliance Reporting Department, Bank Indonesia)

4. Qodhyan Fatahillah (Chief Operating Officer of The Uncle Dee Ice Cream)

InsyaAllah, acara ini diselenggarakan pada:
- Hari, Tanggal: Sabtu, 16 November 2019
- Waktu: 08.30 s.d. 12.00 WIB
- Lokasi: Auditorium D462, Universitas Gunadarma, Depok

GRATIS dan KUOTA TERBATAS❗

Tunggu apalagi? Yuk daftar SEKARANG di sef.or.id/ssm2019

Narahubung: 
0859 2141 3060 (Laki-Laki) 
0859 4132 4054 (Perempuan)

Don't forget to visit our social media!
- FB: KSEI SEF Gunadarma
- Twitter: @KSEI_SEF
- Instagram: KSEI_SEF
- Line@: @KSEI_SEF

Life is about creating yourself, let's create together to the gold future with us!
________
© KSEI SEF UNIVERSITAS GUNADARMA

  • 1 Nov 2019

  • 0 Comments

  • Laporan Kegiatan

Iqtishoduna yang merupakan agenda tahunan terbesar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (HIMA EKIS-FEB) UNAIR diantaranya Sharia Call for Paper (SCFP) tingkat mahasiswa, Olimpiade Ekonomi Islam tingkat SMA/MA, International Debat, Sharia Fair dan International Seminar.

SEF Prestasi LKTI Iqtishoduna 2019, TIM SEF Universitas Gunadarma Juara 3

Link LKTI:

/uploads/ckeditor/attachments/67/Ringkasan_LKTI_Iqtishoduna_2019.pdf

         Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma berhasil meraih Juara III dalam ajang International Seminar and Call for Paper Iqtishoduna 2019 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis (HIMA EKIS-FEB) Universitas Airlangga, Surabaya. Pada perlombaan ini Gunadarma mengirimkan 3 tim delegasi untuk menampilkan karya terbaik mereka. Tim 1 diwakili oleh Cici Indriyani (Akuntansi 2016), Putri Yunela Sari (Akuntansi 2016) dan Rika Aulia (Akuntansi 2016). Tim 2 diwakili oleh Ricka Annisa (Ekonomi Syariah, 2017), Indah Nur Maulina (Manajemen, 2017) dan Aulia Maulitda (Manajemen, 2016). Sedangkan Tim 3 diwakili oleh Abdurraafi Rasyid Ridho (Ekonomi Syariah, 2016), Chntia Cahya Safitri (Ekonomi Syariah, 2016) dan Ilham Fadhilah (Ekonomi Syariah, 2016). Tim yang berhasil meraih penghargaan tersebut ialah dari Tim 1 dengan ketua kelompok Cici Indriyani.

Iqtishoduna yang merupakan agenda tahunan terbesar yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (HIMA EKIS-FEB) UNAIR diantaranya Sharia Call for Paper (SCFP) tingkat mahasiswa, Olimpiade Ekonomi Islam tingkat SMA/MA, International Debat, Sharia Fair dan International Seminar. SCFP adalah ajang kompetisi karya tulis tingkat nasional yang diikuti oleh 10 Universitas di seluruh Indonesia dengan mengirimkan karya terbaik untuk bisa menjadi pemenang di acara tahunan ini. Acara ini berlangsung pada 15 - 17 Oktober 2019 bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.

        Pada hari pertama (15/10), dimulai dengan presentasi karya tulis dari 10 tim yang terpilih diantaranya; Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Univerisitas Airlangga, Universitas Gajah Mada, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, Institute Tazkia dan Universitas Gunadarma. Acara ini  mengangkat tema "Accelerating Economic Growth Through Halal Industry Development” yang bertujuan untuk mengoptimalkan perkembangan digital yang ada di era ini oleh ekonom Rabbani untuk mendukung perkembangan industry halal.  Melalui tema ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi mahasiswa dan masyarakat luas untuk lebih mengenal, mengetahui bahkan mempelajari ekonomi syariah untuk perekonomian yang lebih baik dengan mengembangkan produk-produk halal yang sesuai dengan prinsip syariah.  Tim 1 Universitas Gunadarma tampil pada urutan ke-1 dengan mengangkat topik mengenai lembaga perwakafan dan teknologi blockchain dengan judul paper  “IMPLEMENTASI WAQF BLOCKCHAIN UNTUK MENINGKATKAN ACCOUNTABILITY DEMI MEWUJUDKAN SOCIETY TRUST TERHADAP LEMBAGA PERWAKAFAN DI INDONESAI (STUDI KASUS: BADAN WAKAF AL QURAN). Topik tersebut membahas mengenai bagaimana mengoptimalkan potensi teknologi blockchain pada lembaga perwakafan untuk menciptakan akuntabilitas, efisiensi dan transparani pada lembaga perwakafan dengan output menciptakan nazhir yang professional agar dana wakaf yang telah ada dapat dimaksimalkan dan dikelola dengan baik. Tim 2 Universitas Gunadarma tampil pada urutan ke-5 dengan mengangkat topik mengenai para TKI  dan Ekonomi dengan judul Paper “PEMBERDAYAAN PENYANDANG DISABILITAS BERBASIS KOMUNITAS DALAM MENCAPAI ECONOMIC GROWTH MELALUI PENGEMBANGAN WAQF FOR US DALAM BIDANG HALAL FASHION (PILOT PROJECT: PEKALONGAN, JAWA TENGAH)”. Topik tersebut membahas mengenai suatu Komunitas yaitu Bisabilitas yang merupakan upaya dalam mendorong eksitensi para tunadaksa untuk memberdayakan dan menjembatani mereka agar dapat menjadi individu mandiri khususnya dalam bidang ekonomi kreatif untuk meningkatkan kapabilitas diri terlepas dari keterbatasan yang dimiliki sehinga dapat terciptanya lapangan pekerjaan yang semakin meluas dan berkelanjutan serta dapat terciptanya economic growth. Tim 3 tampil pada urutan ke-2 dengan mengangkat topik mengenai Pariwisata Halal dengan judul Paper “IOT METHOD: OPTIMALISASI MANAJEMEN WISATA HALAL UNTUK AMENITAS PENGUNJUNG (STUDI KASUS: DESTINASI WISATA LABUAN BAJO, MANGGARAI BARAT, NUSA TENGGARA TIMUR)”. Topik tersebut membahas mengenai solusi bagaimana cara menyelesaikan permasalahan sampah, aksesibilitas dan daya tampung pengunjung pada destinasi wisata di Labuan Bajo dengan tujuan untuk mengembalikan tingkat rasa kepuasan (amenitas) dari pengunjung Labuan Bajo.  Setelah tahapan presentasi berakhir, lima tim dengan poin presentasi tertinggi akan melaju ke tahapan terakhir yaitu study case. Lima tim tersebut ialah:  Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Gunadarma (Tim Cici), Universitas Diponegoro dan Universitas Gunadarma (Tim Ricka).

Foto bersama Dewan Juri dan para Finalis

         Pada hari kedua (16/10), merupakan acara International Seminar Iqtishoduna 2019  yang bertemakan "Accelerating Economic Growth Through Halal Industry Development. Seminar tersebut dimoderatori oleh Bapak Imam Wahyudi Indrawan, S.E.I, M.EC. dan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Bapak M. Ali Irsyad, S.Ikom, Ch, Cht. (CEO & Founder of PT. Ijad Group). Bapak Ali Irsyad memaparkan bahwa saat ini populasi manusia meningkat namun hasil pangan semakin berkurang, terbukti dari data yang beliau paparkan yaitu pertumbuhan PDB Pangan dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Data lain juag menyebutkan bahwa jumlah petani di Indonesia juga semakin turun yang di akibatkan karena masyarakat menganggap bahwa petani itu adalah pekerjaan turun temurun. Tiga masalah yang beliau paparkan dalam industri halal dalam bidang pangan adalah; capital (modal), land (lahan) dan market (pasar).

Bapak Raden Ali Ferdian (CEO of Danaprospera) memaparkan materi terkait literasi keuangan syariah di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa saat ini literasi keuangan syariah hanya 8,11% dengan indeks inklusinya sebesar 11,6%. Saat ini kita sedang berada dalam situasi ketika dunia bukan hanya berubah, namun berkembang pesat menerobos kemapanan sistem lama. Dahulu transaksi hanya diperkenankan melalui tunai saja, namun saat ini telah bertumpu kepada transaksi non tunai seperti virtual account cashless dan fintech. Financial Technology juga telah berkembang pesat di Indonesia. Perkembangan ini bahkan mengalahkan pertumbuhan e-commerce.

Bapak Muhammad Quraisy, Ph.D (Principal Analyst at National Committee of Islamic Finance) memaparkan materi tentang peluang dan tantangan industry halal di Indonesia. Peluang Indonesia saat ini yaitu Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di Dunia. Indonesia juga menduduki peringkat terunggul dalam berbagai sektor seperti, makanan dan minuman halal, fesyen muslim, pariwisata halal, industri keuangan islam, media dan rekreasi halal. Bapak Quraisy merumuskan beberapa tantangan yang dihadapi oleh Indonesia yaitu: bagaimana menciptakan Indonesia sebagai pemain industri halal di Dunia, regulasi dan standarisasi sektor industri, research and development & technology serta keuangan dan pembiayaan dari lembaga keuangan islam masih terbatas.  

Pemateri terakhir yaitu Associate Profesor DR. Asmak Ab Rahman (Academy of Islamic Studies, University of Malaya). Beliau menjelaskan tentang mekanisme pencantuman logo halal dan biaya sertifikasi halal di Malaysia. Malaysia telah menjadi Role Model dalam industri halal untuk pertumbuhan ekonomi mereka. Seminar ini mendapatkan antusias yang luar biasa dari mahasiswa-mahasiswa dan para praktisi serta akademisi lainnya. Diharapkan dari seminar ini menambah literasi dan wawasan para peserta khususnya generasi millenial dalam memanfaatkan peluang industri halal yang semakin meningkat.

Foto bersama Moderator dan Pembicara

Setelah sesi seminar berakhir, dilanjutkan dengan pengumuman lomba Call for Paper oleh panitia. Juara I yaitu dari Universitas Indonesia, Juara II yaitu dari Universitas Diponegoro (Tim 1), Juara III yaitu Universitas Gunadarma (Cici Indriyani) dan Best Presentation yaitu Universitas Diponegoro (Tim 2).

Foto bersama para pemenang

         Pada hari ketiga (18/10), finalis diajak field trip mengelilingi kota Surabaya untuk mengenalkan secara langsung tempat wisata yang ada di Surabaya. Museum Perjuangan Sepuluh November dan Museum Bank Indonesia menjadi destinasi wisata yang kami kunjungi. Filed trip membawa kesan bahwa kita harus selalu mengingat sejarah. Kami diajak berkeliling dan di ceritakan oleh salah satu tour guide bagaimana sejarah-sejarah para pahlawan terdahulu dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Rasa senang dan bangga karena bisa mengharumkan nama baik KSEI SEF serta nama baik Gunadarma di kancah nasional dengan membuktikan prestasi-prestasi terbaik.

“Alhamdulillah senang bisa ikut berpartisipasi dalam Seminar and Call For Paper yg diselenggarakan oleh Universitas Airlangga. Mendapatkan juara III menurut saya itu bonus karena yang terpenting adalah pengalaman dan rasa berkompetisi dengan mahasiswa dari universitas lain. Di atas langit masih ada langit dan hal ini tentu saja tidak mungkin dapat diraih tanpa kerja keras dan bantuan dari saudara-saudari dan kakak alumni Sharia Economic Forum yang turut membantu dalam mempersiapkannya” Ujar Cici

Selain itu, banyak pengalaman baru yang dirasakan oleh para finalis. Dapat berdiskusi bersama dan bertukar pikiran dengan teman-teman dari berbagai universitas menjadi kebahagian tersendiri karena selain menjalin silaturahim juga menambah ikmu dan wawasan baru.  

“Hikmah yg didapat dalam mengikuti perlombaan tentunya menambah banyak sekali relasi dari berbagai mahasiswa asal universitas yg berbeda-beda dan pengalaman yg didapat sangat luar biasa, serta mendapatkan banyak tambahan ilmu terkhusus bidang industri halal yg memang saat ini sedang melesat perkembangannya” Tutur Ricka

Laporan: Putri Yunela Sari